Dari Lensa Menjadi Cerita: Workshop “Cerita Pulih” Rehabilitasi dan Rekontruksi Pasca Bencana Sumatera
Workshop Fotografi
dan Storytelling untuk Menguatkan Kembali Kreativitas Masyarakat
Mentari
menyambut pagi dengan cerah di lingkungan Kantor Bupati Padang Pariaman,
Sumatera Barat, Kamis, 20 Agustus 2026. Dari gerbang hingga ke dalam gedung,
suasana kemerdekaan terasa kuat. Marawa berkibar, sementara merah putih
memenuhi sudut-sudut bangunan dan mengantar langkah peserta menuju Hall IKK
Parit Malintang, tempat Workshop “Cerita Pulih” digelar.
Pagi
itu, sebanyak 65 peserta datang dari beragam latar belakang. Ada pelaku ekonomi
kreatif, pelaku UMKM, anggota asosiasi komunitas fotografi, pegawai Pemerintah
Kabupaten Padang Pariaman, hingga mahasiswa. Kedatangan mereka disambut para
gadis dan jejaka yang mengenakan selempang Cik Uniang dan Cik Ajo
Kabupaten Padang Pariaman. Mereka bertugas sebagai panitia sekaligus mengikuti
kegiatan.
Di
dalam aula, suasana tak kalah semarak. Panggung didominasi warna merah putih
yang berpadu dengan warna oranye khas Kementerian Ekonomi Kreatif (EKRAF).
Latar backdrop LED menambah kesan modern sekaligus hangat. Di tengah dekorasi
itu, para peserta menempati kursi masing-masing, bersiap mengikuti perjalanan
sehari: dari melihat melalui lensa hingga mengolah apa yang dilihat menjadi
cerita.
Workshop
“Cerita Pulih” merupakan kegiatan Kementerian Ekonomi Kreatif (EKRAF), melalui
Direktorat Penerbitan dan Fotografi, Deputi Bidang Kreativitas Media, bekerja
sama dengan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman. Kegiatan ini dirancang
sebagai bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di
Sumatera, khususnya melalui penguatan keterampilan masyarakat di bidang
fotografi dan storytelling.
Dua
narasumber hadir membawa keahlian masing-masing. Iggoy Elfitra, fotografer
sekaligus wartawan ANTARA untuk wilayah Sumatera Barat, membagikan pengalaman
dan pengetahuannya tentang fotografi. Sementara itu, Lindawati, S.S., M.Pd.,
penulis, pendidik, dan pegiat literasi, mengajak peserta mengolah foto menjadi
cerita melalui penulisan feature.
Lindawati
yang sehari-hari merupakan guru SMP Islam Raudhatul Jannah Kota Payakumbuh juga
menjabat Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Barat dan mengelola Pustaka
Dua-2, Rumah Baca dan Diskusi Sastra di Kota Payakumbuh.
Acara
dibuka oleh Deputi Bidang Kreativitas Media, Cecep Rukendi, S.Sos., M.B.A.
Sambutan tuan rumah disampaikan oleh Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga
Kabupaten Padang Pariaman, Anton Wira Tanjung, S.Pi., M.Si.
Anton
Wira Tanjung menyampaikan terima kasih atas kepercayaan EKRAF yang memilih
Padang Pariaman sebagai salah satu lokasi kegiatan. Menurutnya, kegiatan
tersebut memiliki arti penting karena tidak hanya berlangsung di satu titik,
tetapi dilaksanakan di tiga lokasi dalam waktu yang bersamaan.
Sementara
itu, Cecep Rukendi menyampaikan bahwa workshop fotografi dan storytelling merupakan
bentuk kepedulian pemerintah dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat
pascabencana, baik dalam aspek pemulihan maupun peningkatan keterampilan masyarakat.
“Peserta
yang terpilih adalah 65 orang dari masyarakat yang diikutkan berdasarkan hasil
kurasi,” ujarnya.
Ia berharap para pelaku kreatif dapat kembali bangkit setelah bencana dengan memanfaatkan fotografi dan storytelling untuk merekam berbagai potensi serta kisah masyarakat. Cerita-cerita tersebut, menurutnya, diharapkan dapat dikembangkan menjadi karya yang dibukukan dan diterbitkan.
Ketika Foto Tidak
Cukup untuk Bercerita
Sesi
pertama diisi Iggoy Elfitra dengan materi dasar fotografi. Pengetahuan peserta
terlebih dahulu disamakan melalui pemaparan, diskusi, dan tanya jawab. Peserta
tidak hanya diajak memahami teknik mengambil gambar, tetapi juga melihat
bagaimana sebuah foto dapat menjadi pintu masuk untuk membaca sebuah peristiwa.
Setelah
itu, Lindawati membawa peserta memasuki wilayah yang berbeda: dari gambar
menuju kata.
Foto,
menurutnya, tidak berhenti sebagai gambar. Di balik sebuah foto selalu ada
kemungkinan cerita. Ada manusia, peristiwa, suasana, konflik, kebudayaan, atau
kehidupan sehari-hari yang dapat diolah menjadi tulisan feature.
Peserta
diajak menggali potensi di sekitar mereka—mulai dari alam, budaya, kuliner,
tokoh, hingga lingkungan. Semua dapat menjadi bahan cerita apabila dilihat
dengan kepekaan.
Semangat
peserta semakin terasa ketika sesi diskusi berlangsung. Suasana merah putih
yang memenuhi ruangan seolah menjadi latar yang tepat bagi semangat untuk terus
belajar. Para peserta diajak “mengosongkan gelas”, membuka diri terhadap
pengetahuan baru, dan menyadari bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya
membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga kreativitas dan kemampuan masyarakat
untuk menceritakan kembali kehidupannya. Dari lensa dan kata, cerita tentang
pulih pun mulai menemukan bentuknya.
Di
tengah kegiatan, Wakil Bupati Padang Pariaman Rahmat Hidayat, S.E., M.M.,
menyempatkan diri hadir. Di tengah kesibukannya, ia menyapa peserta sekaligus
menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada EKRAF yang telah mempercayakan
kegiatan tersebut kepada Kabupaten Padang Pariaman.
Setelah
sesi materi dan istirahat, peserta memasuki bagian yang paling ditunggu:
praktik lapangan.
Hasil jepretan Yoga, salah seorang peserta workshop yang berhasil mempraktikkan sesuai materi fotografi.
Sembilan
kelompok dibentuk untuk menjalankan praktik fotografi dan penulisan feature.
Setiap kelompok terdiri atas lima orang dan dibekali ponsel Xiaomi untuk
mendokumentasikan objek di lingkungan Kantor Bupati Padang Pariaman.
Waktu
yang diberikan hanya 30 menit.
Peserta
diminta mencari objek yang memiliki sisi humanis, mengambil tiga foto dalam
format lanskap, kemudian mengembangkan foto tersebut menjadi tulisan feature.
Mengambil
foto ternyata bukan bagian tersulit. Sebagian besar peserta sudah terbiasa
menggunakan telepon seluler untuk mengabadikan berbagai aktivitas. Tantangan
sesungguhnya muncul ketika mereka harus menjawab pertanyaan sederhana: apa yang
bisa diceritakan dari foto ini?
Sebab,
foto yang menarik belum tentu melahirkan tulisan yang menarik.
Di
situlah peserta belajar bahwa feature bukan sekadar menjelaskan apa yang
terlihat dalam sebuah gambar. Feature membutuhkan kepekaan untuk menemukan sisi
manusiawi dari sebuah peristiwa, kemudian menghidupkannya melalui kata-kata.
Dari
sekian karya yang masuk, terpilih beberapa tulisan terbaik. Salah satunya
berasal dari pemegang ponsel nomor 4, Ajo Toni.
Hasil jepretan dari Ajo Toni yang menceritakan tentang kasih sayang seorang gadis kecil dan seekor rusa
Ajo Toni,
seorang dokter umum yang bertugas di salah satu puskesmas di Kabupaten Padang
Pariaman, menulis tentang kasih sayang seorang gadis kecil kepada seekor rusa.
Cerita
sederhana itu justru berhasil menyentuh sisi emosional pembaca. Ia tidak
berhenti pada apa yang terlihat oleh kamera, tetapi berusaha menangkap hubungan
manusia dengan makhluk lain melalui sudut pandang yang humanis.
Pemenang
berikutnya berasal dari Kelompok 6, atas nama Baim Koto dari Asosiasi Komunitas
Fotografi. Ia mengangkat sosok pegawai Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman
yang sehari-hari bertugas mendokumentasikan berbagai kegiatan.
Hasil jepretan Baim Koto tentang pegawai pemda dengan aktivitas bersama kameranya.
Karya-karya
tersebut memperlihatkan satu hal penting: kemampuan memotret dan kemampuan
bercerita adalah dua keterampilan yang saling melengkapi.
Banyak foto yang secara visual menarik. Namun, tanpa cerita yang kuat, foto itu bisa kehilangan kesempatan untuk meninggalkan kesan lebih dalam kepada pembacanya.
Pulang Membawa
Cerita
Menjelang
pukul 17.00 WIB, rangkaian Workshop “Cerita Pulih” berakhir. Kegiatan ditutup
oleh Direktur Penerbitan dan Fotografi, Imam Santosa.
Imam
mengaku bangga melihat antusiasme peserta yang bertahan mengikuti kegiatan
sejak pagi hingga sore. Peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif
bertanya, berdiskusi, membangun kekompakan melalui yel-yel kelompok, hingga
turun langsung ke lapangan untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh.
Ia
berharap kegiatan-kegiatan EKRAF berikutnya dapat memberikan dampak nyata bagi
masyarakat, terutama para pelaku kreatif, dalam proses bangkit dari dampak dan
trauma bencana sekaligus menggali potensi yang dimiliki Kabupaten Padang
Pariaman.
Hari itu, para peserta mungkin pulang membawa foto-foto baru di dalam ponsel mereka. Namun, lebih dari itu, mereka pulang dengan cara pandang baru, bahwa sebuah foto tidak harus berhenti sebagai gambar. Sebab, di balik satu lensa selalu ada kemungkinan sebuah cerita yang bisa jadi meninggalkan kesan bagi pembaca yang sedang berusaha untuk bangkit dan pulih. (*)





Komentar
Posting Komentar