ALL ABOUT 'KENTUT'

 

Jangan tutup hidung dulu. Dijamin, yang ini tidak bau.

Siapa yang tidak kenal kentut? Siapa pula yang tidak pernah kentut? Hampir semua manusia mengalaminya setiap hari, bahkan sebagian melakukannya berkali-kali—meski tidak semuanya bersedia mengakuinya.

Sesekali, tidak ada salahnya membicarakan soal kentut. Mungkin ada yang menganggapnya jorok atau tidak sopan. Tetapi, coba tanyakan kepada diri sendiri: manusia mana di dunia ini yang tidak pernah kentut?

Apakah kata kentut harus diganti menjadi “bersiul” agar terdengar lebih santun? Rasanya tidak mungkin. Kentut adalah kentut. Mau dibungkus dengan bahasa sehalus apa pun, pada akhirnya hidung tetap tahu kenyataannya.

Yang bau memang kentut, tetapi pembicaraan tentang kentut tidak akan mengeluarkan aroma apa pun. Jadi, mari sejenak membahas kentut. Boleh kok sambil kentut juga. Hehehe.

 

Kentut Berasal Dari Mana?

Kentut berasal dari gas yang terkumpul di dalam saluran pencernaan, terutama usus. Gas tersebut dapat berasal dari beberapa sumber: udara yang tertelan saat makan, minum, berbicara, atau mengunyah; gas yang terbentuk melalui reaksi kimia selama proses pencernaan; serta gas hasil fermentasi makanan oleh mikroorganisme di usus besar.

Jadi, kalau selama ini Anda mengira kentut hanya “diproduksi oleh perut”, tidak sepenuhnya benar. Ada kerja sama antara makanan, udara, sistem pencernaan, dan jutaan mikroba di dalam usus. Bisa dibilang, di dalam tubuh kita ada sebuah “pabrik gas” yang bekerja tanpa mengenal jam kantor.

 

Apa Komposisi Kentut?

Sebagian besar gas dalam kentut tidak berbau. Komposisinya dapat berupa nitrogen, karbon dioksida, hidrogen, oksigen, dan pada sebagian orang, metana. Jumlah masing-masing gas berbeda-beda, bergantung pada makanan yang dikonsumsi, banyaknya udara yang tertelan, serta aktivitas mikroorganisme di dalam usus.

Nitrogen, misalnya, banyak berasal dari udara yang tertelan. Sementara itu, karbon dioksida dapat terbentuk selama proses pencernaan dan reaksi kimia di saluran pencernaan. Hidrogen dan metana umumnya dihasilkan oleh mikroorganisme ketika memfermentasi sisa makanan yang tidak tercerna sepenuhnya.

Menahan kentut tidak membuat tubuh tiba-tiba berubah menjadi balon. Sebagian gas dapat diserap kembali melalui dinding usus dan masuk ke aliran darah, lalu akhirnya dikeluarkan melalui paru-paru. Sebagian lainnya, ya, tetap akan mencari jalan keluar. Cepat atau lambat, kentut punya agenda sendiri.

 

Mengapa Kentut Berbau Busuk?

Bau kentut terutama disebabkan oleh senyawa yang mengandung sulfur, seperti hidrogen sulfida dan beberapa senyawa sulfur lainnya, termasuk metanetiol.

Jumlahnya sebenarnya kecil dibandingkan keseluruhan volume gas. Namun, jangan remehkan sedikit bau. Sejumput parfum bisa memenuhi ruangan; demikian pula sejumput senyawa sulfur bisa membuat orang di sebelah kita mendadak jumpalitan tak karuan.

Makanan yang kaya senyawa sulfur, seperti telur, daging, serta beberapa jenis sayuran tertentu, dapat memengaruhi bau kentut. Sementara itu, kacang-kacangan lebih dikenal sebagai makanan yang dapat meningkatkan produksi gas, meskipun pada sebagian orang juga dapat memengaruhi aromanya.

Jadi, banyak kentut belum tentu paling bau. Dan yang paling bau belum tentu paling banyak. Hidup memang penuh misteri.

 

Kentut Kok Bunyi?

Bunyi kentut terjadi ketika gas keluar melalui anus dan menyebabkan jaringan di sekitarnya bergetar. Keras atau pelannya bunyi dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain tekanan dan kecepatan gas yang keluar serta kondisi otot dan jaringan di sekitar anus.

Singkatnya, semakin cepat dan semakin besar tekanan gas yang keluar, semakin besar pula kemungkinan bunyinya terdengar jelas. Soal kualitas suara, tergantung diameter anus atau boleh dikatakan itu urusan “instrumen” masing-masing. Hihihi.

 

Mengapa Ada Kentut yang Hangat dan Tidak Bersuara?

Istilah populernya adalah SBD (Silent But Deadly): diam-diam, tetapi mematikan—setidaknya bagi kenyamanan orang-orang di sekitarnya. Kentut yang tidak berbunyi bukan berarti gasnya berasal dari jenis bakteri khusus atau terbentuk sebagai gelembung kecil yang otomatis lebih busuk. Bunyi terutama ditentukan oleh cara gas keluar dan seberapa besar getaran yang ditimbulkannya pada jaringan di sekitar anus.

Adapun rasa hangat terjadi karena suhu gas mendekati suhu tubuh. Sementara itu, bau berasal dari senyawa tertentu yang dihasilkan selama proses pencernaan dan fermentasi oleh mikroorganisme di usus.

Jadi, diam bukan berarti tidak berbahaya. Dalam urusan kentut, kadang yang paling menakutkan justru yang datang tanpa aba-aba.

 

Berapa Banyak Kentut Diproduksi dalam Sehari?

Rata-rata orang dapat mengeluarkan gas sekitar 10–20 kali sehari, meskipun jumlahnya dapat berbeda-beda pada setiap orang. Sebagian kentut bahkan terjadi tanpa kita sadari, misalnya saat tidur. Total volume gas yang dikeluarkan dalam sehari umumnya berkisar dari beberapa ratus mililiter hingga sekitar satu setengah liter, tergantung kondisi tubuh, pola makan, dan jumlah gas yang terbentuk di saluran pencernaan.

Jadi, kalau Anda merasa sering kentut, belum tentu ada yang salah. Bisa jadi, tubuh Anda hanya sedang menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi.

 

Mengapa Kentut Keluar Melalui Lubang Dubur?

Gas di dalam usus tidak memilih jalan berdasarkan prinsip “yang paling ringan harus naik”. Saluran pencernaan adalah sistem yang terus bergerak. Gerakan peristaltik usus membantu mendorong isi saluran pencernaan, termasuk gas, menuju bagian akhir usus. Ketika tekanan gas meningkat dan sfingter anus mengendur, gas pun dapat keluar.

Dalam perjalanan menuju pintu keluar, gelembung-gelembung gas dapat bergabung menjadi gelembung yang lebih besar. Dan ketika waktunya tiba, tubuh pun memberi sinyal: permisi, ada yang mau lewat.

Untunglah jalurnya memang menuju bawah. Bayangkan kalau desain tubuh manusia memungkinkan kentut keluar dari hidung. (Heh… beneran dibayangin, ya?)

 

Berapa Lama Bau Kentut Mencapai Hidung Orang Lain?

Tergantung banyak hal: jarak antara sumber dan korban—eh, penerima aroma—arah dan kecepatan aliran udara, suhu, kelembapan, serta kondisi ruangan. Setelah keluar, gas dan molekul penyebab bau akan menyebar dan bercampur dengan udara. Semakin luas dan memiliki ventilasi baik suatu ruangan, konsentrasinya biasanya akan semakin cepat berkurang.

Namun, kalau kentut dilepaskan di ruang sempit, seperti mobil atau lift, ceritanya bisa berbeda. Di sana, prinsip kebersamaan benar-benar diuji: satu orang berbuat, semua orang mendapat pengalaman.

 

Apakah Setiap Orang Kentut?

Hampir semua orang yang memiliki saluran pencernaan normal akan menghasilkan dan mengeluarkan gas. Bahkan setelah seseorang meninggal, gas di dalam saluran pencernaan masih dapat keluar karena proses pembusukan dan perubahan tekanan di dalam tubuh. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untuk malu karena kentut. Ini bagian normal dari fungsi tubuh.

 

Betulkah Laki-Laki Kentut Lebih Sering daripada Perempuan?

Tidak ada aturan biologis sederhana yang menyatakan bahwa laki-laki pasti kentut lebih sering daripada perempuan. Frekuensi kentut lebih dipengaruhi oleh pola makan, jumlah udara yang tertelan, kondisi saluran pencernaan, aktivitas mikroorganisme usus, dan kondisi tubuh masing-masing. Jadi, urusan kentut tidak mengenal diskriminasi gender. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak yang setara untuk… mengeluarkan gas.

Hanya saja, mungkin sebagian orang lebih berbakat menyembunyikan barang bukti.

 

Kapan Orang Biasanya Kentut?

Kentut dapat terjadi kapan saja. Namun, produksi dan pengeluaran gas sering berkaitan dengan aktivitas makan dan proses pencernaan. Setelah makan, aktivitas saluran pencernaan dapat meningkat sehingga gas lebih mudah bergerak. Gas juga dapat keluar pada malam hari atau setelah bangun tidur. Pada sebagian orang, dorongan untuk buang angin terasa lebih kuat setelah bangun dan mulai bergerak.

Kalau kentut pagi hari terdengar cukup keras, anggap saja itu bukan gangguan. Itu mungkin alarm biologis yang tidak bisa dimatikan dengan tombol snooze.

 

Mengapa Makan Kacang-Kacangan Menyebabkan Banyak Kentut?

Kacang-kacangan mengandung jenis karbohidrat tertentu, seperti raffinose dan stachyose, yang tidak sepenuhnya dapat dicerna oleh enzim manusia. Ketika mencapai usus besar, karbohidrat tersebut difermentasi oleh mikroorganisme. Proses inilah yang dapat menghasilkan lebih banyak gas.

Beberapa makanan lain, seperti kubis, kembang kol, bawang, dan makanan tertentu yang mengandung karbohidrat sulit dicerna, juga dapat meningkatkan produksi gas pada sebagian orang. Susu pun dapat menyebabkan banyak gas pada orang yang mengalami intoleransi laktosa.

Jadi, ketika mikroba usus menemukan makanan favoritnya, mereka berpesta. Sayangnya, kita yang harus membayar tagihan dalam bentuk kentut.

 

Selain Makanan, Apa Saja Penyebab Banyak Kentut?

Selain jenis makanan, produksi atau pengeluaran gas dapat meningkat karena: menelan banyak udara, makan atau minum terlalu cepat, berbicara sambil makan, mengunyah permen karet, minum minuman berkarbonasi, gangguan pencernaan tertentu, dan perubahan tekanan udara, misalnya saat berada di pesawat.

Di pesawat, tekanan udara kabin yang lebih rendah dibandingkan tekanan di permukaan laut dapat membuat gas di dalam saluran pencernaan mengembang. Jadi, kalau perut terasa lebih “aktif” saat terbang, mungkin bukan karena makanan pesawat saja.

 

Apakah Kentut Sama dengan Sendawa, Hanya Keluar dari Lubang yang Berbeda?

Tidak persis. Sendawa umumnya merupakan pelepasan gas dari bagian atas saluran pencernaan, terutama udara yang tertelan dan berada di lambung. Sementara kentut terutama berasal dari gas yang berada di usus. Keduanya memang sama-sama gas yang ingin keluar, tetapi jalur dan sumber utamanya berbeda. Kalau dibuat sederhana: satu memilih pintu depan, satu lagi memilih pintu belakang.

 

Ke Mana Perginya Gas Kentut Jika Ditahan?

Menahan kentut tidak membuat seluruh gas langsung lenyap. Sebagian gas dapat tetap berada di dalam usus dan bergerak mengikuti aktivitas saluran pencernaan. Sebagian lagi dapat diserap melalui dinding usus, masuk ke aliran darah, lalu akhirnya dikeluarkan melalui paru-paru.

Karena itu, menahan kentut kadang hanya berarti menunda kepergiannya. Dan seperti beberapa tamu yang terlalu lama menunggu, ketika akhirnya keluar, ia bisa datang dengan lebih percaya diri.

 

Mungkinkah Kentut Terbakar?

Secara teori, ya, karena sebagian gas usus dapat mengandung hidrogen dan metana yang mudah terbakar. Namun, kandungan kedua gas tersebut berbeda-beda pada setiap orang dan tidak semua kentut mengandung cukup gas yang mudah terbakar untuk menyala.

Jadi, kalau naik gunung, lupa bawa korek api tapi mau masak indomie, tidak usah pakai kentut buat nyalain kompor, ya? Hehehe… Percobaan semacam itu tidak menjamin keberhasilan dan jelas bukan solusi.

 

Bisakah Menyalakan Korek Api dengan Kentut?

Tidak. Kentut bukan sumber panas yang cukup tinggi untuk menyalakan korek api. Kalaupun gas kentut tertentu dapat terbakar ketika bertemu sumber api, itu tidak berarti kentut dapat berfungsi sebagai pemantik. Jadi, jangan membayangkan manusia bisa menggantikan korek gas. Teknologi belum sampai sejauh itu. Dan sebaiknya memang jangan sampai.

 

Mengapa Kentut Anjing dan Kucing Bisa Berbau Menyengat?

Bau kentut pada hewan, termasuk anjing dan kucing, dipengaruhi oleh jenis makanan, kandungan protein, senyawa sulfur, serta proses fermentasi di saluran pencernaan. Makanan yang tinggi protein dan mengandung senyawa tertentu dapat menghasilkan metabolit berbau tajam. Namun, tidak semua anjing atau kucing pasti memiliki kentut yang lebih busuk daripada manusia.

Demikian pula, hewan herbivora dapat menghasilkan gas dalam jumlah besar akibat fermentasi makanan berserat oleh mikroorganisme di saluran pencernaan. Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa sapi, kuda, atau gajah lebih sopan dalam urusan kentut. Mereka hanya punya sistem pencernaan dan pola makan yang berbeda.

Meski begitu, memelihara gajah di rumah sebagai alternatif pengganti anjing tentu bukan solusi terhindar dari bau kentut peliharaan. Terutama kalau rumah Anda tipe 36.

 

Betulkah Bisa Pusing karena Mencium Bau Kentut Berkali-Kali?

Dalam kondisi biasa, bau kentut di udara terbuka atau ruangan berventilasi baik tidak akan membuat seseorang “teler” hanya karena menciumnya dua atau tiga kali. Bau yang sangat menyengat memang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau mual pada sebagian orang. Namun, pusing akibat paparan gas biasanya berkaitan dengan konsentrasi zat tertentu yang sangat tinggi dalam ruang tertutup—situasi yang tidak sama dengan sekadar mencium kentut biasa.

Jadi, tidak perlu panik. Tetapi, kalau ada orang yang memang hobi mengendus kentut, mungkin yang perlu diperiksa bukan kadar oksigennya, melainkan hobinya.

 

Apakah Kentut Memiliki Warna?

Tidak. Gas yang umumnya membentuk kentut pada dasarnya tidak berwarna.

Untunglah demikian. Bayangkan kalau kentut memiliki warna mencolok dan terlihat jelas di udara. Mungkin setiap rumah akan membutuhkan kamera pengawas khusus untuk mencari pelaku.

“Bukan saya!”

“Buktinya ada rekaman asap hijau lewat pukul 08.15.”

 

Kentut Itu Bersifat Asam, Basa, atau Netral?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak bisa dijawab begitu saja dengan “asam”, “basa”, atau “netral”. Konsep pH terutama digunakan untuk larutan berair, sedangkan kentut merupakan campuran berbagai gas. Karena itu, secara ilmiah tidak tepat mengatakan seluruh kentut pasti bersifat asam hanya karena mengandung karbon dioksida atau hidrogen sulfida. Ketika gas-gas tertentu larut dalam air, memang dapat membentuk larutan yang bersifat asam. Tetapi, campuran gas kentut itu sendiri tidak memiliki satu nilai pH tunggal yang sederhana.

Jadi, bahkan kentut pun ternyata lebih rumit daripada kelihatannya.

 

Apa yang Terjadi Jika Seseorang Kentut di Planet Venus?

Secara praktis, manusia tidak akan bisa begitu saja berdiri di permukaan Venus lalu kentut dengan santai. Suhu dan tekanan di sana sangat ekstrem, sementara atmosfernya sebagian besar terdiri atas karbon dioksida dan mengandung senyawa sulfur.

Kalaupun secara imajinatif seseorang berhasil kentut di sana, tambahan gas dari satu kali kentut tentu tidak akan memberikan pengaruh berarti terhadap atmosfer Venus.

Lagipula, kalau sudah sampai di Venus, mungkin masalah terbesar bukan lagi, “Apakah kentut saya berbau?”, melainkan, “Mengapa saya bisa sampai di sini?”

 

Benar-Benar Mengharukan, Deh…

Terkadang, ketika kita menangis, tak seorang pun menyadari linangan air mata kita.

Terkadang, ketika kita amat sedih, tak seorang pun melihat kepedihan hati kita.

Terkadang, ketika kita bahagia, tak seorang pun memperhatikan senyum yang mengembang di bibir kita.

Akan tetapi, ketika kita kentut…

SEMUA ORANG MENOLAH KE ARAH KITA.

Mengharukan, bukan?

Namun, walau begitu, jangan pernah malu untuk kentut. Kentut adalah bagian normal dari proses pencernaan dan kehidupan manusia. Menahan sesekali mungkin bisa dilakukan demi menjaga situasi, tetapi menganggap kentut sebagai sesuatu yang memalukan tentu tidak perlu.

Jadi, sudah siap untuk kentut?


(Uda Agus, berbagai sumber)

 

Komentar