Judul
: Tijah
Penulis : Bambang Kariyawan YS.
Penerbit : Indiva Mitra Pustaka
Tempat Terbit : Surakarta
Tahun Terbit : 2024
Tebal : vi + 108 halaman
ISBN : 978-623-253-200-7
Genre : Kumpulan Cerpen
Ada kalanya sebuah buku tidak sekadar menghibur pembaca melalui cerita, tetapi juga mengajak mereka menyusuri jejak sejarah, budaya, dan identitas suatu masyarakat. Itulah kesan pertama yang muncul ketika membuka halaman demi halaman kumpulan cerpen Tijah karya Bambang Kariyawan YS.
Sebelum memasuki isi buku, pembaca terlebih dahulu disambut testimoni S. Gegge Mappangewa, Ketua Umum BPP Forum Lingkar Pena periode 2021–2025, yang menyebut bahwa “membaca Tijah ibarat menelusuri aliran sungai berupa cerita tradisi dan sejarah tentang Melayu dan Riau”. Pernyataan tersebut bukanlah sekadar pujian, melainkan sebuah pengantar yang tepat untuk menggambarkan watak buku ini. Pembaca seakan diajak berlayar menyusuri Sungai Siak, menapaki kampung-kampung Melayu, menyaksikan denyut kehidupan masyarakatnya, hingga menyelami berbagai peristiwa sejarah yang menjadi latar lahirnya kisah-kisah dalam buku ini.
Tijah memuat enam belas cerpen, yaitu Liberika Bermotif Naga, Perempuan Petang Megang, Tijah, Mancokau, Sekanak dan Cerita-Cerita Pagi, Retak Mencari Belah, Senja yang (Belum) Hilang, Lelaki Tengah, Tempayan Tua dan Sirene Ambulans, Kai, Ayah, Kaca dan Taman Mexico, Lelaki Berkubang Air Mata, Bisu Sialang, Aroma Tubuh Ayah, Jangan Panggil Aku Habib, dan Kurma. Keragaman judul tersebut menunjukkan luasnya tema yang diangkat penulis, mulai dari sejarah, keluarga, adat Melayu, lingkungan, hingga persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada kualitas setiap cerpennya. Naskah cerpen dalam antologi ini telah lebih dahulu dipublikasikan di berbagai media massa bahkan memperoleh penghargaan dalam berbagai kompetisi penulisan cerpen. Rekam jejak tersebut tentu menunjukkan kualitas dan kematangan cerita.
Cerpen Tijah, yang menjadi judul buku, bersama Retak Mencari Belah, memperlihatkan bagaimana sejarah kerajaan Melayu dipadukan dengan konflik keluarga dan persoalan kekuasaan. Pembaca tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai dinamika kehidupan masyarakat Melayu pada masa lampau. Di tangan Bambang Kariyawan YS., sejarah tidak hadir sebagai kumpulan fakta yang kaku, melainkan menjelma menjadi narasi yang hidup melalui tokoh-tokoh yang memiliki pergulatan emosional.
Sementara itu, beberapa cerpen lain menghadirkan kritik sosial yang tajam. Senja yang (Belum) Hilang, Kai, dan Lelaki Berkubang Air Mata mengangkat persoalan kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang mengabaikan keseimbangan alam. Kritik tersebut tidak disampaikan secara menggurui, melainkan mengalir melalui pengalaman tokoh-tokohnya sehingga pembaca diajak merenungkan sendiri dampak dari perubahan sosial yang terjadi. Kritik sosial, isu kemanusiaan, maupun bencana Covid-19 yang sempat melanda juga menjadi tema penting yang diangkat dalam cerpen Ayah, Kaca dan Taman Mexico maupun Kurma.
Hal lain yang menarik adalah konsistensi penulis dalam menghadirkan ruang budaya Melayu sebagai fondasi cerita. Sungai Siak, tradisi masyarakat, adat istiadat, hingga berbagai istilah lokal muncul secara alami tanpa mengurangi keterbacaan cerita. Pembaca yang berasal dari luar Riau pun memperoleh pengalaman membaca yang sekaligus memperkaya wawasan mengenai sejarah dan kebudayaan Melayu.
Sampul buku turut memperkuat identitas tersebut. Dominasi warna biru gelap yang berpadu dengan cahaya jingga matahari terbenam menciptakan kesan dramatis sekaligus melankolis. Siluet seorang perempuan berhijab yang memandang ke arah laut, dipadukan dengan kapal layar tradisional Melayu, menjadi simbol perjalanan, penantian, sekaligus hubungan manusia dengan sejarah dan budaya maritim. Tipografi judul Tijah yang besar dan sederhana memberi ruang bagi ilustrasi untuk berbicara lebih kuat. Secara visual, sampul ini berhasil menghadirkan atmosfer Melayu yang menjadi ruh keseluruhan isi buku.
Meskipun demikian, jika ditinjau dari sisi pemasaran, desain sampul tersebut mungkin lebih dekat dengan selera pembaca sastra dewasa. Generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha, yang akrab dengan desain visual yang lebih berani dan dinamis, mungkin tidak langsung tertarik untuk mengambil buku ini dari rak toko. Oleh karena itu, apabila suatu saat diterbitkan edisi baru, penyegaran desain dengan tetap mempertahankan identitas budaya Melayu dapat menjadi pertimbangan agar jangkauan pembacanya semakin luas.
Pada
akhirnya, Tijah bukan sekadar kumpulan cerpen yang menyajikan hiburan
melalui alur cerita yang menarik. Buku ini merupakan upaya merawat ingatan
kolektif tentang Melayu melalui sastra. Bambang Kariyawan YS. berhasil
membuktikan bahwa sejarah, tradisi, kritik sosial, dan persoalan kemanusiaan
dapat dipadukan dalam cerita-cerita yang komunikatif sekaligus menggugah. Bagi
pembaca yang ingin mengenal kebudayaan Melayu dari sudut pandang sastra, Tijah
merupakan bacaan yang layak diapresiasi. Sementara bagi pencinta cerpen
Indonesia, buku ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak hanya menghibur,
tetapi juga memperkaya pemahaman mengenai identitas budaya Nusantara. (*)
*) Linda Tanjung, Ketua FLP Wilayah Sumatera Barat

Komentar
Posting Komentar