Oleh: Uda Agus
Saya tidak pernah menyangka bahwa sebuah lomba
kecil yang saya buat pada tahun 2011 akan bertahan lebih lama daripada yang
saya perkirakan. Lomba yang niat awalnya hanya akan diselenggarakan sekali
saja, malah punya episode panjang layaknya sinetron Indonesia hingga tahun 2026
ini.
Lomba itu saya adakan karena meniru jejak yang
dilakukan oleh seorang penulis terkenal Indonesia. Jadi, pada tahun 2011,
seorang teman menandai saya pada sebuah postingan di akun Facebook-nya, lomba
menulis resensi buku yang diadakan oleh Teh Pipiet Senja. Beliau
menyelenggarakan lomba itu dalam rangka memperingati 36 tahun beliau menapaki
dunia tulis-menulis.
Dari sanalah ide itu muncul. Saya mulai bertanya
pada diri sendiri, sejak kapan saya menulis? Dan tentu saja saya tahu
jawabannya. Meski menulis sudah saya mulai sejak bergabung dengan sebuah
organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena, pada akhir
tahun 2000, saya menetapkan tahun 2001 sebagai karier awal dunia kepenulisan
saya, ditandai dengan pemuatan tulisan pertama saya (cerpen) pada bulan Juli
2001 di sebuah majalah remaja berskala nasional yang cukup digandrungi kala
itu, Majalah Annida.
Artinya, saya sudah menekuni dunia kepenulisan
selama 10 tahun. Lalu ide itu pun muncul. Saya akan membuat sebuah lomba dalam
rangka memperingati 10 tahun saya menulis.
Namanya sederhana: Lomba Menulis Bersama Uda
Agus. Orang-orang kemudian menyingkatnya menjadi LMBUA—singkatan yang, kalau
dipikir-pikir, terdengar seperti nama obat masuk angin, atau obat flu, atau
nama obat yang sepertinya familiar di apotek. Namun entah kenapa, makin ke sini
ia justru terasa hangat dan akrab, sesuatu yang sering ditanyakan ketika
pergantian tahun terjadi: apakah tahun ini ada LMBUA?
Lomba itu lahir bukan dari sebuah perencanaan yang
besar, bukan pula dari dukungan dana yang kuat. Ia lahir dari niat yang sangat
sederhana, membuat ruang untuk mereka (para pemula) yang ingin punya karya,
punya buku yang di dalamnya ada tulisan mereka.
Tidak disangka, pada tahun pertama, pesertanya
mencapai angka 100-an. Bagi saya, itu luar biasa. Entah mereka mengenal saya
atau tidak, mereka tetap berpartisipasi.
Hal yang pada awalnya hanya untuk mengenang sepuluh
tahun saya menulis, ternyata bisa diapresiasi seantusias ini oleh peserta. Lalu
saya pun bertekad menjadikan ini lebih dikenal, lebih besar, dan lebih
bermakna.
Kala itu, boleh dikatakan saya masih sama dengan
mayoritas peserta, penulis pemula. Rasanya tidak layak jika saya yang menilai
ratusan naskah itu dan menentukan sendiri pemenangnya. Lalu saya menghubungi
seorang sastrawan senior di kota saya, yang se-Indonesia, bahkan dunia, sepertinya
mengenal beliau, Gus tf Sakai. Saya ceritakan apa yang saya buat, dan saya
“todong” beliau untuk menjadi juri terhadap naskah-naskah tersebut.
Dan semuanya berjalan sesuai alur yang saya
inginkan. Naskah-naskah terbaik dipilih, dibukukan dalam sebuah antologi. Dan
tentu saja, saya mempromosikan bukunya di media sosial, merayu para pecinta
buku, khususnya cerpen, untuk memilikinya.
Saya menatap tumpukan buku yang baru selesai
dicetak. Aromanya khas—tinta, kertas, dan sesuatu yang membuat saya merasa
bangga dan haru.
Dan di situlah saya pertama kali melangkah ke
konter JNE.
Saya datang dengan paket-paket buku yang dibungkus
seadanya. Tidak ada standar profesional. Tidak ada pengalaman. Hanya plastik,
lakban, dan keyakinan yang terlalu besar untuk ukuran paket yang kecil. Paket
itu akan dikirim untuk para penulis antologi, para pemesan buku, dan beberapa
saya kirim sebagai hadiah untuk teman dan sahabat.
“Isinya apa, Da?” Petugas di konter JNE menatap
saya sejenak.
Saya menjawab, mungkin sedikit dramatis, “Harapan.”
Ia terdiam. Tentu saja. “Ini buku, semuanya berisi
buku,” jawab saya kemudian.
***
Sejak saat itu, ada satu hal yang terus berulang
dalam hidup saya setiap tahun, menggelar lagi LMBUA musim kedua, musim ketiga,
dan seterusnya. Menerima naskah yang masuk. Membaca ratusan cerita untuk
kemudian disaring dan diseleksi. Menyerahkan naskah-naskah yang sudah disaring
kepada juri untuk memilih pemenang. Mencetak buku. Dan… berdiri di depan konter
JNE dengan tumpukan paket di tangan.
Ritme itu, entah bagaimana, menjadi semacam siklus
hidup. Jika pada tahun pertama saya hanya membawa beberapa paket, pada
tahun-tahun berikutnya jumlahnya mulai bertambah, semakin banyak.
Pernah suatu waktu, saya datang dengan kardus besar
yang harus saya angkat dengan kedua tangan, seperti sedang membawa hasil panen.
Petugas JNE yang sudah melihat saya dari kejauhan
bertanya, “Da, ini isinya apa? Banyak sekali.”
Saya menjawab, “Mimpi, harapan, dan cerita
orang-orang.”
Ia hanya tersenyum.
***
Namun, tidak semua yang kita rencanakan berjalan
mulus.
LMBUA adalah kompetisi menulis yang saya adakan
secara mandiri. Mulai dari membuat flyer pengumuman, mengumpulkan
naskah-naskah yang masuk, memeriksa persyaratan administrasi, lalu membaca
naskah-naskah itu. Bagian yang saya mintakan tolong ke orang lain masih sama, menentukan
para pemenang. Selain Gus tf Sakai, ada beberapa nama yang pernah menjadi juri
LMBUA: Ilham Q. Moehiddin, Ragdi F. Daye, Muna Masyari, S. Gegge Mappangewa,
Ali Muakhir, Syamsa Hawa, dan terakhir, untuk tahun 2026 saya menggandeng Helvy
Tiana Rosa.
Pernah suatu kali, saya berniat menghentikan LMBUA.
Persoalan dana. Selain hadiah untuk pemenang, saya juga butuh dana untuk
mencetak dan menerbitkan. Dan memang, pada tahun tersebut, ada kebutuhan lain
yang lebih mendesak.
Namun, beberapa pesan dan komentar muncul di media
sosial saya.
“Uda, LMBUA tahun ini kapan?”
“Tahun ini mau ngadain lomba cerpen atau apa?”
“Uda, spill dong tema lomba tahun ini, biar
siap-siap.”
“Sudah tidak sabar menunggu LMBUA musim ini.”
Jika saya tidak mengadakan LMBUA, ada semacam
perasaan bersalah yang sulit dijelaskan, seolah-olah saya memutuskan harapan
beberapa orang yang sedang bersemangat meraih mimpinya.
Saya membaca ulang komentar-komentar itu. Dan saya
sadar, ini bukan lagi soal saya. Ini tentang mereka yang sudah mengirimkan
ceritanya dan menjadi bagian dari LMBUA.
Saya mencari cara. Mengurangi ini-itu, menunda
kebutuhan lain, dan akhirnya tetap menggelar LMBUA.
Dan rutinitas tahunan itu kembali terulang.
Saat melangkah ke konter JNE dan menyerahkan
paket-paket itu, rasanya ada yang berbeda. Lebih berat, bukan karena jumlahnya,
tetapi karena maknanya. Saya sedang menyerahkan sesuatu yang hampir tidak
sempat lahir.
***
Sejak 2011 hingga sekarang, entah sudah berapa
banyak buku yang saya kirimkan melalui JNE. Tak lagi puluhan, tetapi sudah
ratusan, bahkan mungkin ribuan. Memang saya tidak pernah menghitung.
Yang saya ingat adalah cerita-cerita di baliknya.
Ada peserta dari kota besar yang mudah dijangkau. Ada juga dari daerah yang
namanya baru saya dengar ketika menuliskan alamatnya. Setiap alamat adalah
dunia yang berbeda. Dan JNE adalah jembatan kecil yang menghubungkannya.
Yang membuat saya terus percaya pada JNE sampai
saat ini adalah tidak pernah ada paket yang hilang. Mungkin ada yang terlambat,
mungkin ada yang sedikit tersendat, tetapi pada akhirnya ia sampai.
Saya sering membayangkan momen ketika paket itu
tiba. Seorang penulis—mungkin masih sangat muda, mungkin juga sudah lama
menulis diam-diam—menerima paket itu dengan rasa penasaran.
Ia membukanya perlahan. Menyentuh sampulnya.
Mencium aroma kertasnya. Lalu membuka halaman demi halaman sampai menemukan
namanya.
Di situlah sesuatu berubah. Ia tidak lagi sekadar
seseorang yang “ingin menulis”. Ia telah menjadi penulis. Dan perjalanan menuju
momen itu, melewati banyak tangan yang tidak ia kenal. Salah satunya adalah
JNE.
***
Sekarang, setelah lebih dari satu dekade—tepatnya
sudah 16 tahun sejak LMBUA pertama kali diadakan—saya masih melakukan hal yang
sama. Masih menyelenggarakan lomba. Masih membaca naskah. Masih mencetak buku.
Dan masih datang ke JNE.
Saya tidak tahu sampai kapan saya akan terus
melakukan ini. Dana masih dari kantong sendiri, tenaga kadang terasa tidak
cukup, waktu sering kali terasa sempit. Namun setiap kali saya berpikir untuk
berhenti, selalu ada satu hal yang menahan saya. Cerita-cerita itu, cerita yang
ingin didengar, penulis pemula yang punya semangat dan harapan. Ada yang telah
sudi menunggu setahun agar bisa ikut karena terlewatkan tahun sebelumnya. Dan
saya benar-benar akan merasa bersalah jika harus memupusnya.
Dan dalam perjalanan panjang itu, JNE selalu
ada—bukan hanya sebagai jasa pengiriman, tetapi sebagai penghubung yang setia,
yang memastikan bahwa setiap buku, setiap cerita, tidak berhenti di satu
tempat.
Bergerak bersama, bagi saya, bukan sekadar kalimat
indah. Ia adalah kenyataan yang saya jalani setiap tahun. Saya bergerak dengan
kata-kata. Para peserta bergerak dengan mimpi mereka. Dan JNE bergerak,
mengantarkan semuanya, tanpa banyak suara, tetapi dengan konsistensi yang tidak
pernah saya ragukan.
Beragam cerita itu nyata. Ada yang lucu. Ada yang
sederhana. Ada yang penuh luka. Ada yang mengubah hidup seseorang. Dan semuanya
pernah singgah dalam sebuah paket.
Jika suatu hari nanti saya berhenti mengadakan
lomba ini, mungkin yang paling saya rindukan bukan hanya naskah-naskah itu.
Bukan hanya proses membaca ratusan halaman yang melelahkan (tetapi
membahagiakan), melainkan perjalanan kecil menuju JNE.
Membawa kardus berisi buku. Menuliskan alamat satu per satu. Menyerahkannya. Dan kemudian… percaya. Percaya bahwa setiap kiriman akan menemukan jalannya. Percaya bahwa setiap cerita akan sampai ke tujuannya. Dan percaya bahwa di dalam setiap paket kecil itu, selalu ada sesuatu yang jauh lebih besar yang ikut dikirimkan, harapan. (*)
#JNE
#ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita

.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar