UTANG RESEPSI

“Saya tunggu sampai minggu depan,” ucapan tegas Jono membuat Din membeku. Semilir angin di perkebunan durian membuatnya nelangsa.

Jono bergegas meninggalkan Din yang masih terduduk lesu di dangau.

Din pikir dengan kabur ke kebun durian, orang-orang akan berhenti mencarinya. Namun dia keliru.

Buktinya si Jono mengejar sampai ke sini. Pengusaha tenda dan pelaminan itu menagih sampai tempat pelariannya.

Ah. Din menarik kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.

Ini semua ulah istri dan anaknya. Dari awal dia sudah menentang untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan putrinya itu. Cukup nikah di KUA, lalu jamuan sederhana. Tidak perlu ribet.

“Apa kata teman-teman arisanku, Yah,” tolak istrinya. “Lagian untuk kue-kue dan telur aku sudah ikut arisan, dananya tidak usah dipikirkan lagi.” Istrinya, Rum, berujar berapi-api.

“Itu gak cukup, kita gak ada modal untuk menggelar pesta,” balas Din.

“Windri sanggup memberi 5 juta, untuk uang dapur,” Dera, Putrinya juga ikut bersuara.

Din menggeleng. Dia tahu, untuk acara resepsi yang direncanakan istri dan putrinya paling tidak menghabiskan dana 30 juta.

***

Apa mau dikata. Din kalah suara. Desakan istri dan anaknya, ditambah dukungan dari para kerabat, akhirnya Din menyerah.

Dera memang anak tertua. Anaknya yang kedua masih di bangku SMP.

            Di kampungnya nampaknya sebuah aib, apabila di kediaman mempelai wanita tidak diadakan resepsi pernikahan. Lagian modal pesta nanti akan kembali dari para undangan.

“Malah saya untung 10 juta,” ujar Pak Rasyid tetangganya.

Din terdiam mendengarnya. Apakah demikian?

Kegalauan Din bukan tidak beralasan. Pertama memang masalah dana. Keuangannya betul-betul sedang sulit. Panen cabenya merugi karena harga yang anjlok.

Din juga menyadari, selama ini beliau jarang sekali menghadiri undangan dari para kerabat. Paling yang beliau datangi hanya keluarga terdekat saja.

Hal ini karena kesibukannya bertani. Seperti beberapa bulan yang lalu Din harus menginap di kebun cabenya. Jika kebunnya tidak ditanam cabe dia akan menanam sayur mayur, sehingga waktunya benar-benar terkuras.

Apalagi beberapa bulan ke depan musim durian akan tiba. Dia akan bermalam di kebun duriannya.

Paling yang menghadiri pesta sanak saudara hanya istrinya. Dan istrinya pun pilih-pilih sehubungan dengan ketersediaan uang petulung yang dimiliki.

Dengan ragu akhirnya Din menyetujui rencana istri dan putrinya.

Mulailah persiapan acara itu.

***

Dugaan Din ternyata benar. Banyak sekali yang harus disiapkan. Tenda, pelaminan, sewa organ, kursi, dan meja. Belum lagi untuk minuman dan makanan para tetamu. Semuanya diambil dulu alias utang.

Din sempat ketar-ketir. Namun melihat banyaknya tamu yang hadir mengucapkan doa restu buat anaknya membuat perasaannya cukup lega, berharap utang-utang tadi akan terlunasi.

Acara resepsi berjalan dengan lancar. Para tetamu sudah mulai pulang. Kerabat dan keluarga dekat mulai berkemas.

Malamnya sepi.

Din bersama istri dan anak-anaknya membuka kotak amplop dari para tetamu.

Mulailah meraka mengeluarkan dan menghitung rupiah yang ada di dalam amplop.

Mencatat dan menulisnya. Kemudian menjumlahkannya.

Hasilnya memang fantastis. Di luar perkiraan Din. Uang yang terkumpul sangat banyak.

Namun saat mulai merinci jumlah utang-utangnya, Din merasa jengah.

Kok bisa sebanyak itu?

Besok harinya mulai dilakukan pembayaran utang-utang itu. Untung yang diharapkan bisa berkali lipat, jauh panggang dari api. Modalnya saja tidak kembali. Beberapa item utang belum bisa dilunasi, termasuk tenda dan pelaminannya pak Jono.

Din dan istrinya bingung. Hari berganti hari.

Seminggu sejak pesta, mulai banyak yang datang menagih.

Bahkan ada di antara yang marah dan mengambil barang yang ada di rumah Din sebagai pembayar utang.

Din mulai kewalahan. Puncaknya kemarin beliau kabur ke kebun durian. Mencari ketenangan di tempat yang sunyi.

Namun baru semalam dia berada di sini, Pak Jono mendatanginya.

Din mendongak ke arah pohon duriannya. Masih muda. Masih butuh satu bulan lagi agar buahnya mulai matang. Dia berharap durian ini bisa menjadi penolongnya.

Hanya saja Pak Jono memaksa minggu depan. Dengan apa dia akan membayarnya?

Din sudah mencoba untuk meminjam kepada beberapa saudaranya, namun tidak ada yang bersedia memberikan pinjaman. Semuanya beralasan sedang paceklik.

***

Seminggu berlalu. Pak Jono datang bersama para tukang pukulnya.

“Mulai sekarang kebun ini menjadi milikku. Kamu silakan pergi dari sini.”

Din berteriak menolak, namun apa daya kekuatan 2 orang yang bersama Pak Jono tidak bisa dikalahkan.

Din terusir dari kebunnya sendiri. Dia terduduk dan maratap. Lalu bagaimanakah nasib utangnya dengan yang lain. Saat ini semua tidak ada yang tersisa. (*)

 

Keterangan:

Petulung: amplop sumbangan/angpau pernikahan

 

*) Neto Kosboyo adalah guru di SMA Negeri 6 Bengkulu Selatan. Hobi membaca dan menulis. Tulisannya tergabung dalam berbagai antologi dan buku tunggal. Tiga tahun terakhir, terpilih sebagai pemenang sayembara penulisan buku cerita anak Dwibahasa Indonesia-Bengkulu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Bengkulu. Beliau dapat dihubungi melalui email netokosboyo81@guru.sma.belajar.id atau facebook Neto Kosboyo.

 

 

Komentar