UMUR YANG PANJANG

 

Ramadan selalu membawa banyak hal kembali ke permukaan: kenangan, doa, dan kadang pertanyaan yang belum selesai dijawab.

Malam itu aku duduk di sofa ruang tamu setelah salat tarawih. Rumah sudah sepi. Angin malam masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Di meja kecil di depanku ada segelas teh dan mushaf yang belum lama kututup. Di dinding depan, foto Ibu tergantung dalam bingkai kayu sederhana. Ia tersenyum di sana seperti biasa, senyum yang dulu selalu menyambut siapa saja yang datang ke rumah.

Entah kenapa, pikiranku tiba-tiba teringat sebuah kalimat yang pernah kudengar menjelang Lebaran di waktu kecil.

“Siapa yang suka menyambung silaturahmi akan dipanjangkan umurnya.”

Dulu aku selalu mengangguk saja saat mendengarnya. Kalimat itu terdengar baik, menyenangkan. Sampai pada hari ini, hari ketika aku mulai bertanya-tanya. Kalau kalimat itu benar, seharusnya Ibu masih ada.

Ibuku adalah orang paling rajin bersilaturahmi yang pernah kukenal. Ia hafal nama-nama tetangga, saudara jauh, bahkan teman lama yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. Aku lebih banyak hafal nama teman-teman Ibu dibandingkan dengan nama teman-temanku sendiri.

Setiap ada kabar orang sakit, ia datang menjenguk. Setiap ada kabar orang menikah, ia datang membawa doa. Setiap ada kabar orang berduka, ia datang lebih dulu dari banyak orang. Rumah kami pun seperti tidak pernah sepi dari tamu.

Sampai pada tanggal 8 Desember, sekitar tiga bulan yang lalu, semuanya berubah. Hari itu Ibu pergi untuk selamanya.

Kalau silaturahmi benar-benar memanjangkan umur, kenapa Ibu pergi begitu cepat? Aku bahkan belum lulus kuliah saat Ibu pergi. Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Aku menghela napas pelan, mencoba melupakan pikiran itu, lalu bangkit dari sofa untuk mengambil camilan di dapur.

Saat melewati meja kecil di sudut ruang tamu, pandanganku tiba-tiba terhenti. Di sana ada tumpukan wadah plastik kecil—wadah jeli. Sudah lama sekali aku tidak memperhatikannya.

Tanganku mengambil salah satunya. Ringan. Kosong.

Dan tiba-tiba saja dapur dalam ingatanku kembali hidup.

Dulu, setiap hari di bulan Ramadan, dapur kami selalu ramai. Selain digunakan untuk memasak hidangan berbuka, aku sering membantu Ibu membuat jeli untuk anak-anak panti.

Ibu berdiri di depan kompor sambil mengaduk panci besar berisi cairan jeli yang masih panas. Aku biasanya duduk di meja makan sambil membantu menuangkan jeli ke dalam wadah-wadah plastik kecil. Lalu kami menyusunnya satu per satu di atas meja. Setelah semuanya dingin, Ibu memasukkannya ke dalam kardus, lalu mengantarkannya ke anak-anak panti.

Bagiku dulu itu hanya rutinitas kecil.

Sampai tiba-tiba aku teringat hari ketika Ibu meninggal.

Ruang tamu kami penuh sejak pagi. Tetangga datang bergantian. Kerabat jauh berdatangan satu per satu. Banyak sekali wajah yang sama sekali tidak kukenal.

Orang-orang datang menyalamiku, lalu bercerita tentang Ibu.

“Ibumu sering menjenguk saya waktu sakit.”

“Beliau pernah membantu kami.”

“Orangnya baik sekali.”

Kalimat itu terus berulang. Orang yang datang bukan puluhan, melainkan ratusan. Dan hampir semuanya membawa cerita tentang kebaikan Ibu.

Sampai seorang perempuan paruh baya datang bersama beberapa anak kecil. Aku tidak mengenalnya. Ia menggenggam tanganku erat.

“Ini rumah Bu Siti, ya?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk.

Matanya langsung berkaca-kaca. “Saya pengurus panti asuhan,” katanya.

Aku terdiam.

Ia menoleh ke arah anak-anak di belakangnya. Salah satu dari mereka berkata pelan, “Bu Siti yang sering kirim jeli warna-warni itu, kan?”

Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Selama ini aku selalu membantu membuat jeli itu.

Perempuan itu lalu menggenggam tanganku lebih erat.

“Anak-anak selalu menunggu kiriman beliau setiap Ramadan,” katanya dengan suara bergetar. “Makanya kami datang, ingin berterima kasih.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa waktu itu. Aku hanya berdiri diam.

Saat itu juga aku baru menyadari betapa luasnya kehidupan Ibu di luar yang selama ini kuketahui.

Ingatan itu perlahan memudar, dan aku kembali berdiri di dapur. Wadah jeli kecil itu masih ada di tanganku. Namun sekarang aku memandangnya dengan pandangan yang berbeda.

Mungkin selama ini aku memang salah memahami kalimat “umur panjang” itu.

Mungkin umur panjang bukan hanya soal berapa lama seseorang hidup di dunia. Karena meskipun Ibu sudah dimakamkan tiga bulan lalu, namanya masih sering disebut orang.

Tetangga masih mengenangnya. Orang-orang masih menceritakan kebaikannya. Anak-anak panti itu bahkan masih mengingat jeli warna-warni yang dulu ia kirimkan setiap bulan Ramadan.

Seolah-olah Ibu belum benar-benar pergi.

Ia masih berjalan dari satu rumah ke rumah lain melalui cerita orang-orang yang pernah kutemui.

Mungkin sekarang aku akhirnya mengerti—tentang silaturahmi, tentang umur yang panjang, tentang bagaimana seseorang bisa tetap hidup bahkan setelah dunia mengira ia sudah pergi.

Ibu meninggalkan jejak di hati banyak orang. Hingga setelah ia pergi pun, namanya masih terus disebut dalam kebaikan-kebaikan kecil yang ternyata tidak pernah benar-benar hilang.

Karena ternyata ada umur yang dihitung dengan tahun. Dan ada umur yang dihitung dari seberapa lama seseorang terus dikenang karena kebaikannya melalui silaturahmi yang ia lakukan.

Dan jika itu benar, maka Ibu masih memiliki umur yang sangat panjang.

Aku membuka lemari dapur pelan.

Di antara tumpukan gula, tepung, dan bumbu-bumbu, tanganku berhenti pada beberapa bungkus kecil yang terselip di sudut rak.

Bubuk jeli.

Aku tanpa sadar menatapnya sebentar. Lalu tanpa sadar tersenyum tipis.

Di luar rumah, angin malam bulan Ramadan berhembus lembut.

Dan untuk pertama kalinya sejak Ibu pergi, dapur rumah ini terasa seperti sedang menunggu sesuatu. (*)

 

 

*) Fathia Izza adalah mahasiswi yang memiliki minat pada dunia kepenulisan. Ia memiliki hobi menulis dan membaca sejak kecil. Sejak masa perkuliahan, ia suka menulis berbagai artikel dan esai yang banyak mengangkat tema-tema sosial, refleksi kehidupan, serta nilai-nilai keislaman. Kegemarannya membaca dan menulis membawanya untuk terus mengeksplorasi berbagai bentuk tulisan sebagai cara memahami dan menyampaikan gagasan. Belakangan ini, ia mulai mendalami penulisan cerpen sebagai ruang baru untuk mengekspresikan cerita dan pengalaman hidup dengan cara yang lebih naratif dan emosional. Ia masih akan terus belajar mengembangkan kemampuan menulisnya agar dapat menghadirkan karya yang lebih hidup dan bermakna.

 


Komentar