Di sepertiga
malam Ramadhan yang ganjil,
saat Lailatul Qadar meledak dalam sunyi, aku
datang menyeret gumpalan dosa yang lebih ringan dari debu,
mengetuk pintu langit dengan jemari
yang masih merah oleh darah dunia.
"wahai
pemilik kerajaan!" pekikku
pada kursi yang kosong di mata,
namun sesak di dada.
Lihatlah,
si suci yang berlumur daki ini kembali.
langkahku: tap, tap, tap menindih hamparan
kain yang tak berdosa.
Sajadah itu menggigil saat kusentuh,
ia mual menghirup aroma surga
yang hendak kubeli dengan recehan doa.
Bukankah
aku ini pesulap
yang ulung?
Pada bulan ini, aku adalah
rahib yang paling
rindu pada-Mu,
namun di sebelas bulan lainnya, aku adalah asing yang tak tahu jalan pulang.
Aku mendadak shalat dengan "sering yang jarang",
menjadi hamba yang amat takwa
hanya saat rembulan
berbentuk sabit.
Apakah kau hanya Tuhan
di bulan suci, atau aku yang hanya
butuh Tuhan saat lapar menyiksa diri?
Bibirku menari
lincah, tapi hatiku
kaku membangkai. Subhana,
subhana, subhana...
Lidahku fasih melantunkan langit,
namun langkahku rakus melahap bumi. Bukankah aku ini hamba yang sedang
mendikte Tuhan?
Aku menyetor dahi, menuntut takdir agar menjadi
semanis empedu.
Satu jidat menghantam bumi,
tapi seluruh
gedung dan angka-angka ikut tersungkur di saku celanaku. Aku bersujud dengan sangat
"sederhana" dalam kemewahan niat,
merasa telah menjelma
Ibrahim, padahal hanya
menyembelih domba plastik.
"Ketahuilah," bisik syaitan di lubang telinga,
"ibadahmu ini adalah
keindahan yang menjijikkan." Aku membalasnya dengan
diam yang hingar-bingar.
Aku hanya
sedikit "kurang rendah
hati" merasa lebih cahaya dibanding pendosa di luar sana,
padahal aku hanyalah onggokan sampah yang dibungkus kain ihram.
O, Baitullah
yang jauh, O, Sajadah yang mulai lusuh.
Apakah aku sedang menyembah-Mu, atau sedang menyembah sujudku sendiri?
Ingat! camkan! catat!
Surga tidak
butuh mereka yang sekadar mahir menanam dahi, tapi mereka
yang berdarah-darah mencabut
duri di dalam
hati.
Akhirnya, salam menoleh
ke kanan dan ke kiri.
Mata ini melirik, mencari-cari apakah ada manusia
yang memuji megahnya
kesalehan palsuku. Aku melipat
kain, pulang dengan dada yang membusung karena menang,
tanpa sadar baru saja tersungkur kalah di dalam kemenangan.
Lintau Buo Utara, 15 Maret
2026
Alem Maulana Wulida Finnahar, lahir di Padang, 29 Januari 2000. Alem merupakan lulusan D3
Universitas Negeri Padang tahun 2020 dan S1 Universitas Terbuka tahun 2024
Prodi Perpustakaan. Alem sekarang
bekerja sebagai operator
sekolah di UPT SMPN 5 Lintau Buo Utara.
Alem memiliki ketertarikan di bidang penulisan fiksi dan non fiksi. Pada bidang
non fiksi, Alem telah mempublikasikan artikel ilmiah bidang kearsipan sebanyak
2 kali dan Buku Antologi Kearifan Lokal Sumbar pada Bab 12: Lebih dari Sekedar
Talam: Kisah dibalik Sajian Talam Ampek dengan ISBN 978-623-117-672-1. Alem
juga berhasil lolos seleksi program MTN
Kementerian Kebudayaan melalui draf novel berjudul
"Talam Ampek yang Bicara". Alem juga berhasil
lolos seleski cerpen yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Sumbar tahun 2025.


karyanya luar biasa, majas dan diksi yang dipakai sangat menyentuh
BalasHapus