“Nanti sore jangan lupa ke masjid!”
Siang itu, ucapan itu keluar dari mulut Bapak. Aku tak sengaja bertemu dengannya sehabis mencuci piring dari rumah tetangga. Bapak meneriakiku sembari menggoes becaknya, dan aku hanya meresponsnya dengan acungan jempol.
Hari itu adalah hari pertama Ramadan.
Keluargaku termasuk keluarga yang terbantu dengan datangnya bulan suci ini.
Jika boleh jujur, kami termasuk keluarga yang kekurangan. Aku mempunyai dua
adik yang masih kecil. Bapak berprofesi sebagai tukang becak, sedangkan Ibu
menawarkan jasa cuci keliling. Aku bahkan tidak bersekolah. Aku memilih
mengikuti jejak Ibu untuk menawarkan jasa cuci keliling demi menambah
pendapatan. Sekarang kalian bisa bayangkan, bukan, seberapa kekurangannya
keluargaku?
Saat orang lain sibuk memikirkan karier,
keluargaku hanya bisa memikirkan bagaimana cara mengisi perut esok hari.
Karena, ya, kami tak tentu bisa makan setiap hari. Maka dengan datangnya
Ramadan, dengan kebiasaan masyarakat berbagi takjil gratis, itu sangat
meringankan kami.
Hari pertama bulan Ramadan, aku membawa dua
adikku ke masjid. Masing-masing dari kami mendapat nasi kotak. Mata adikku
berbinar-binar saat membuka kotak itu, melihat ayam bakar di dalamnya. Itu
adalah makanan mahal bagi kami.
Bapak selalu berpesan untuk menetap di masjid
sampai tarawih berakhir. Katanya, masjid desa biasanya akan membagikan takjil
yang masih tersisa. Lumayan, bisa untuk sahur nanti. Aku pernah mendapatkannya,
namun hanya sesekali, karena panitia Ramadan biasanya menyediakan stok makanan
sesuai jumlah warga desa. Jadi jika sudah habis, aku pulang dengan tangan
kosong.
Aku bisa melihat raut sedih Bapak saat sahur
tiba. Ia memiliki tiga anak, namun rumah tak selalu memiliki makanan untuk
sahur. Kadang, jika Bapak masih punya uang, ia akan membeli gorengan dan nasi
kucing untuk anak-anaknya. Tak banyak. Bahkan Bapak dan Ibu memilih untuk minum
air putih saja. Aku sebagai anak pertama sesekali mengalah—hanya memakan
gorengan—supaya adik-adikku bisa makan nasi.
Siang yang terik, saat aku sedang mencuci
piring di rumah Bu RT, terdengar teriakan tetangga yang memanggil-manggil
namaku.
“Nala! Nala! Nala di mana?”
Aku terjerenggat mendengar warga heboh menyebut
namaku. Mengapa mereka mencariku? Saat Bu RT keluar rumah dan memberitahu
orang-orang bahwa aku sedang bekerja di rumahnya, warga tersebut merangsek
masuk menemuiku.
“Nala, Bapakmu pingsan di jalan!”
Aku terkejut bukan main. Aku langsung berlari menuju tempat kejadian yang warga tuju.
Sesampainya di sana, aku melihat Bapak
terkapar, ramai dikelilingi warga.
“Bapak! Bapaak!” pekikku, memaksa masuk di
antara kerumunan.
Beberapa orang mengipasi Bapak. Aku bisa
melihat tubuh Bapak yang penuh dengan keringat, namun saat kusentuh tangannya,
ia kedinginan. Aku yakin pasti Bapak kelelahan.
“Pak! Bapaak!”
Ibu datang menyibak kerumunan. Rautnya sangat
khawatir. Ia memangku kepala Bapak di atas pahanya, kemudian meminumkannya air.
Puasa Bapak batal, namun ia sudah sadar.
“Bawa ke UGD saja, Bu. Kayaknya bapaknya
kesulitan bernapas,” usul salah seorang warga.
Ibu terdiam sejenak, kemudian menepis. “Nggak
usah. Bawa pulang saja. Kalau ke UGD saya nggak bisa bayarnya.”
Saat itu, aku benci menjadi miskin.
Malamnya, aku menemani Bapak di kamar. Aku
mengoleskan minyak kapak ke punggungnya dan memijatnya.
“Bapak besok puasa?”
“Insyaallah.”
“Jangan puasa dulu nggak sih, Pak? Bapak belum
sehat,” ujarku memberi saran.
Namun Bapak menggeleng, menolak.
Kondisi Bapak memang cukup membaik daripada
siang tadi. Namun belum tentu Bapak kuat puasa esok hari. Jika Bapak keukeuh
berpuasa, maka artinya Bapak akan tetap bekerja. Aku tak yakin Bapak akan kuat,
sedangkan saat itu kami sama sekali tidak mempunyai makanan untuk sahur.
“Pak, dalam Islam ada yang namanya keringanan,
lho, Pak. Nggak apa-apa besok nggak usah puasa dulu,” ucapku mencoba membujuk
Bapak sekali lagi.
Pria paruh baya itu menghempas napas, menatap
ke arahku.
“Kamu ngomong begitu karena kita nggak ada lauk
untuk sahur, ya?”
Aku menggigit bibir. Sialnya, tebakan Bapak
benar.
“Suatu hari ada anak kecil di Palestina
bertanya pada ibunya saat bulan Ramadan, ‘Bu, apakah puasa kita diterima oleh
Allah, sedangkan kita berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka?’”
Cep.
Mulutku terdiam. Tentu aku tahu maksud Bapak.
Esoknya, Bapak tetap berpuasa.
Saat melihat Bapak yang bersikeras tetap
berpuasa di tengah kondisinya yang memburuk, muncul tekad di otakku untuk
mencari pendapatan tambahan. Jika Bapak ingin tetap berpuasa, setidaknya ia
harus makan sahur supaya badannya tidak lemas. Aku harus memiliki uang!
Aku mengetahui di kecamatan sebelah ada masjid
yang membagikan takjil pada warganya menggunakan piring. Artinya setiap hari
ada ratusan piring kotor yang harus dicuci supaya bisa dipakai lagi esok hari.
Mengetahui kabar itu, aku tancap gas setiap
selesai tarawih, berharap imbalan yang akan kudapatkan nanti bisa untuk membeli
lauk sahur.
Tiga hari kulakukan pekerjaan itu, dan tiga
hari pula seluruh anggota keluargaku sahur dengan nasi. Walaupun dengan lauk
seadanya, setidaknya kebutuhan karbohidrat kami terpenuhi.
Lelah memang, bekerja dari selesai tarawih hingga tengah malam. Pulangnya aku harus membeli lauk untuk dimakan sahur karena aku baru mendapat imbalan setelah semua pekerjaanku selesai.
Namun aku
bahagia melihat Bapak bisa sehat lagi.
Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung
lama.
Suatu hari aku melihat Bapak pulang dengan
langkah sempoyongan. Air mukanya keruh. Rautnya menandakan kelelahan. Ia
terduduk di kursi dapur sambil meneguk air.
Pelan aku mendekatinya, kemudian menyentuh
lengannya.
“Pak, besok Bapak nggak usah kerja. Istirahat
saja. Urusan uang buat makan adik-adik biar Nala yang cari.”
Bapak bukan lelah biasa. Ia sudah tak muda
lagi. Tubuhnya tak sekuat dulu. Sudah waktunya Bapak istirahat.
Malam itu, Bapak tak banyak menyanggah saranku.
Beliau setuju. Esoknya, Bapak istirahat sepanjang hari.
seminggu hanya aku dan Ibu yang menjadi
pemasok keuangan keluarga. Seminggu itu pula kami sahur dan berbuka dengan
nasi. Aku senang melihat adik-adikku makan dengan lahap. Aku senang melihat
Bapak mulai membaik.
Memasuki pertengahan Ramadan, Allah mengujiku
dengan mendatangkan cobaan.
Masjid ramai dipenuhi masyarakat yang mengejar
malam ganjil. Stok piring yang harus kucuci pun kian membludak. Malam itu aku
baru selesai kerja pukul dua dini hari.
Aku berjalan pulang menyusuri jalanan yang
sepi. Tiba-tiba dua orang pria bertubuh kekar muncul di hadapanku. Mereka
menghadangku sambil memaksa meminta uang.
Aku sempat memberontak dan mencoba kabur. Namun
tubuhku terlalu mungil untuk melawan dua orang itu. Mereka membekap mulutku.
Bahkan untuk berteriak meminta bantuan pun aku tidak bisa.
Setelah tangan mereka berhasil merogoh saku
celanaku dan menemukan uang di dalamnya, mereka mengambilnya, lalu pergi begitu
saja.
Aku syok berat. Kakiku gemetar menyadari apa
yang baru saja terjadi hingga aku terduduk lemas di atas tanah berbatu. Aku
menangis tersedu meratapi nasib.
Ya Allah… mengapa semuanya jadi begini?
Ujung mataku menangkap lembaran uang dua puluh
ribu yang tercecer dari tangan perampok itu. Aku mengusap ingus, kemudian
merangkak mengambilnya.
Setidaknya aku masih bisa membeli gorengan
untuk sahur keluargaku.
Aku terburu-buru mencari gerobak gorengan yang
masih buka. Setelah menemukannya, kuhabiskan uang itu untuk membeli beberapa
biji gorengan dan bergegas pulang.
Namun cobaanku tak sampai di situ saja.
Di tengah perjalanan pulang, kakiku tersandung
batu yang tak kulihat. Aku terjatuh. Beberapa gorengan yang kubeli keluar dari
plastiknya, menggelinding ke kubangan air.
“Ah!” pekikku menyadari apa yang terjadi.
Hatiku sedih bercampur kesal. Mengapa semuanya
jadi berantakan?
Ada beberapa biji gorengan yang masih bisa
kuselamatkan. Sedikit sekali. Beberapa kumasukkan kembali ke dalam plastik.
Setidaknya masih bisa untuk sahur, walaupun sedikit.
Aku kembali berjalan pulang dengan langkah
pincang.
Sesampainya di rumah, Ibu membukakan pintu.
Bapak khawatir melihat kondisiku yang amat buruk. Terlebih aku baru sampai
rumah pukul tiga dini hari.
“Kenapa bajumu banyak lumpur begini?!” tanya
Bapak khawatir.
Aku tak menjawabnya. Hanya duduk dan
menelungkupkan kepala. Tangisku pecah.
“Pak… Bu… maafin Nala, ya,” aku tersedu di
antara kalimatku yang belum selesai. “Nala malam ini cuma bisa beli gorengan,
dan tadi gorengannya jatuh. Cuma sisa segini.”
Bapak dan Ibu mengelus rambutku, menenangkan.
“Iya, sudah nggak apa-apa. Yang penting kamu
selamat.”
Malam itu, Bapak dan Ibu tidak makan sahur.
Hanya aku dan adik-adik yang menyantap gorengan itu.
Aku marah pada diriku sendiri yang tidak becus
menghidupi keluargaku. Gara-gara aku, Bapak dan Ibu tidak bisa makan sahur.
Pagi itu aku menangis, menyalahkan diri. Walau
orang tuaku berkali-kali menenangkan, sama saja, tetap tidak mempan.
Detik itu aku bertekad pada diriku sendiri:
setidaknya sekali saja Ramadan kali ini keluargaku bisa makan sahur dengan lauk
yang enak. Ayam bakar, misalnya. Aku yakin aku akan melakukannya.
Sepuluh hari terakhir Ramadan, saat semua orang
sibuk beriktikaf dan mengejar malam lailatul qadar, aku malah mati-matian
mencari uang.
Namun mau bagaimana lagi? Aku memang harus
melakukannya. Jika tidak, keluargaku tak akan bisa makan.
Kata Pak Ustaz, bekerja jika diniatkan untuk
ibadah juga ada pahalanya. Maka kuniatkan perjuangan ini untuk ibadah. Tekad
untuk memberi makan keluarga juga hal yang baik.
Seminggu sudah aku menjalani kerja cuci piring
di kecamatan sebelah.
Malam kedua puluh tujuh Ramadan, akhirnya aku
bisa membeli satu kilo ayam untuk dimasak nanti.
Aku pulang dengan langkah girang.
Sesampainya di rumah, aku langsung mengeksekusi
ayam itu di dapur, memasaknya menjadi ayam bakar.
Pukul tiga dini hari, aroma ayam bakar mulai
menguar di udara. Aku senang melihat adikku mencium aromanya, menghirupnya
dalam-dalam ke rongga dada, memejamkan mata, lalu bergumam, “Kayaknya enak!”
Dengan langkah kecilnya, ia mengintip suasana
dapur.
Bapak? Beliau baru saja menyelesaikan salat
tahajud.
Aku khawatir karena akhir-akhir ini kondisi
Bapak memburuk. Namun saat menyadari beliau teramat bangga padaku, kekhawatiran
itu sedikit memudar.
Pukul empat pagi, makanan siap dihidangkan.
Hari itu aku sangat bahagia melihat keluargaku
bisa makan enak saat sahur. Bukan dengan nasi kucing. Bukan dengan gorengan. Ini
ayam bakar.
Adik-adikku lahap menyantapnya. Bapak tak henti
tersenyum saat mengunyah lauk itu. Sesekali menatapku, menyemat rasa bangga.
Saat azan Subuh berkumandang, lauk kami masih
tersisa, bisa dimakan saat berbuka nanti.
Bapak mengimami kami untuk salat Subuh. Semuanya
terasa damai dan bahagia. Hingga saat sujud terakhir tiba, Bapak tak juga
bangkit dari sujudnya.
Menyadari kejanggalan itu, Ibu membatalkan
salatnya, menghampiri Bapak, menepuknya. Aku dan adik-adik mengintip dalam
posisi yang masih sujud.
Satu tepukan.
Dua tepukan.
Tiga tepukan.
Dan…
Bapak tumbang.
Aku terlonjak dari sujudku saat menyadari apa
yang terjadi. Tangisku pecah.
Ya Allah… Bapak… apa Bapak yakin akan pergi
secepat ini?
Pagi itu kami semua memeluk Bapak yang sudah
tak lagi bergerak. Tangisku berderai. Bapak pergi di bulan yang paling baik. Bapak
pergi saat perutnya menerima lauk yang paling baik.
Dalam suasana yang pilu itu, hatiku beradu
dengan takdir Tuhan di langit.
Aku tidak meminta banyak. Aku hanya memohon,
semoga kehidupanku tetap bisa berjalan baik, walaupun Bapak sudah tidak ada
lagi. (*)
*) Nada
Karima lahir pada tanggal 29 April 2002, Bantul,
Yogyakarta. Penulis mempunyai hobi menulis sejak kecil, dimulai dari menulis
cerpen, artikel, hingga novel. Novel perdananya telah dirilis pada 2018 silam.
Nada merupakan alumni Darussalam, Jawa Timur. Setelah lulus ia sempat mengajar
selama satu tahun sebelum melanjutkan kuliahnya. Ia pernah memenangkan lomba menulis generasi sastra Gen-Z dengan
kategori cerpen terbaik tingkat nasional. Beberapa karya cerpennya telah dimuat
dalam buku antologi maupun platform-platform tertentu. Penulis bisa dihubungi
melalui nada29karima@gmail.com.
.png)
Komentar
Posting Komentar