Sakral dan
suci
Bulan mulia telah tiba, bulan ampunan telah tiba
Sungguh tak dapat terganti wahai tuhanku
Umur bertambah,
Waktu tiba,
Detak berjalan,
Mengantarkan diri pada sang ramadan
Tetesan air mata tak lagi basah
Lantunan ayat suci tak lagi hidup
Membawa ceret kotor di depan tamu
Seolah si tamu tak berharga
Duhai sang pencipta
Pandanglah aku yang lelah
Terperosok nan jauh tak terhitung
Tenggelam nan tercekik senyap
Dalam laut gelap, dalam hutan berkabut
Jikalah engkau maha pengampun...
Sungguh ampuni diriku
Yang lancang menentang aturanmu
Berani berdusta berucap celaka
Tumpahlah deras dari kedua manik hitamku
Bersimpuh tiap terperosok arus
Merapal ampunan tiap tercekik bisu
Kembali dan kembali meski merangkak terpincang
Sungguh aku hanyalah insan tamak
Sungguh aku hanyalah pendosa belaka
Yang mengharap surga
Bersama ujian membelenggu
Menuntun pada gelap buta
Terseok kembali
pada cahaya
Meski tak dapat meraba ujung kebebasan
Sungguh demi tuhan yang maha penyayang...
Kupersembahkan luka yang kembali kurajut
Kupersembahkan lumpur yang kembali kubasuh
Sebab diriku takkan berputus asa dari rahmatmu
Demi kembali berjalan pada tuhanku
Kumohon wahai
tuhan yang maha pengasih...
Terimalah raunganku, terimalah lantunanku, terimalah ibadahku
Kabulkanlah ia bersama tuntunan cahaya
Yang menjemputku saat berjuang di jalanmu
Kupesembahkan hitam yang perlahan putih
Meski lambat, meski cacat
Namun kupastikan kembali
pulang
*) Fathina Rahma Qonita adalah seorang mahasiswi baru di Universitas Pendidikan Indonesia. Dirinya kerap kali menuangkan pikiran berkecamuk yang telah bersarang dalam kepalanya. Baginya, menulis adalah salah satu cara dalam mengekpresikan diri. Kini, ia masih harus terus belajar dan belajar serta memperbaiki diri untuk menggapai masa depan yang cerah.

Komentar
Posting Komentar