Di tanah
rantau, Ramadan selalu terasa lebih panjang. Hari-hari berjalan seperti biasa:
orang bekerja, pasar tetap ramai, dan azan magrib tetap berkumandang dari
menara masjid—tetapi bagi mereka yang hidup jauh dari kampung, ada ruang kosong
yang tidak pernah benar-benar terisi. Rindu tumbuh perlahan di dalam dada,
seperti air yang menetes setitik demi setitik hingga akhirnya memenuhi sebuah
wadah yang lama dibiarkan kosong.
Begitulah yang
dirasakan Rahman selama bertahun-tahun di Sulawesi.
Ia datang ke
pulau itu ketika usianya masih muda, dengan keberanian yang lebih besar
daripada pengalaman. Ia meninggalkan Minangkabau dengan langkah yang mantap,
seperti kebanyakan lelaki dari tanahnya yang percaya bahwa merantau adalah
jalan untuk menjadi manusia yang lebih tegak berdiri. Di punggungnya hanya ada
tas kecil berisi pakaian, sajadah, dan sedikit bekal dari ibunya. Selebihnya
hanyalah harapan yang belum tahu bentuknya.
Tahun-tahun
pertama di rantau tidak mudah. Rahman bekerja apa saja yang bisa ia kerjakan.
Pagi hari ia pernah menjadi buruh di pelabuhan, mengangkat karung beras dari
kapal yang baru bersandar. Siang hari ia membantu di warung makan milik orang
Minang yang lebih dulu menetap di sana. Malamnya sering ia habiskan di kamar
sempit yang hanya cukup untuk sebuah tikar dan sebuah lampu redup.
Namun kehidupan
di rantau memang mengajarkan satu hal yang jarang diajarkan oleh tempat lain:
kesabaran. Rahman belajar menahan lelah, menahan kecewa, dan menahan rindu yang
kadang datang tanpa alasan yang jelas.
Rindu itu
selalu datang paling kuat ketika Ramadan tiba.
Di bulan itu,
kota tempatnya bekerja menjadi lebih hidup. Lampu-lampu pasar menyala lebih
lama, orang-orang berbondong-bondong membeli makanan untuk berbuka, dan suara
bedug terdengar dari berbagai arah. Tetapi di balik keramaian itu Rahman sering
merasakan kesunyian yang lebih dalam.
Ia sering
teringat kampungnya di Minangkabau. Sebuah nagari kecil yang dikelilingi sawah
dan bukit-bukit hijau. Jalan-jalannya tidak ramai, tetapi setiap sudutnya
menyimpan kenangan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Di sana ada
rumah kayu yang sederhana, dengan dinding yang mulai pudar warnanya oleh hujan
dan matahari.
Di rumah itulah
ibunya tinggal seorang diri.
Perempuan tua
itu tidak pernah benar-benar mengeluh, tetapi Rahman tahu bahwa kesepian adalah
tamu yang sering datang di rumah itu. Setiap kali mereka berbicara melalui
telepon, suara ibunya selalu terdengar lembut, tetapi ada getar yang tidak bisa
disembunyikan.
“Pulanglah
kalau ada waktu, Man,” kata ibunya suatu malam.
Rahman terdiam
lama.
Ia tahu bahwa
pulang bukan sekadar soal membeli tiket perjalanan. Ada rasa malu yang sering
menghantui para perantau ketika mereka kembali tanpa membawa keberhasilan yang
bisa dibanggakan. Tetapi semakin lama ia hidup di rantau, semakin ia mengerti
bahwa keberhasilan kadang bukanlah apa yang orang lain lihat. Kadang
keberhasilan hanya berarti bisa kembali ke rumah.
Akhirnya, di
penghujung Ramadan tahun itu, Rahman membuat keputusan yang sudah lama ia
tunda.
Ia akan pulang.
Keputusan itu
terasa seperti membuka jendela yang lama tertutup. Angin segar masuk ke dalam
hatinya. Ia mengumpulkan uang yang selama ini ia sisihkan sedikit demi sedikit,
lalu membeli tiket kapal yang akan membawanya menyeberangi laut menuju Sumatra.
Malam sebelum
berangkat, ia menelepon ibunya.
Suara perempuan
tua itu terdengar jelas dari seberang lautan.
“Man?”
“Iya, Bu.”
“Kapan pulang?”
Rahman menarik
napas pelan, lalu menjawab dengan suara yang tenang.
“Besok aku
berangkat. Lebaran nanti kita makan bersama.”
Di ujung
telepon, ibunya tidak langsung menjawab. Seperti ada sesuatu yang tertahan di
dadanya. Lalu ia berkata pelan, dengan nada yang hampir seperti bisikan.
“Ibu tunggu.”
Kata-kata itu
sederhana. Tetapi bagi Rahman, kata-kata itu terasa seperti pelukan yang
menembus jarak ribuan kilometer.
Keesokan
harinya ia berdiri di pelabuhan, memandang kapal yang akan membawanya pulang.
Laut terbentang luas di depan matanya, biru dan tenang seperti tidak menyimpan
apa pun selain perjalanan panjang.
Ketika kapal
mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, Rahman berdiri di geladak belakang.
Angin laut menyentuh wajahnya dengan lembut. Di kejauhan, lampu-lampu kota
mengecil perlahan hingga akhirnya hilang di balik cakrawala.
Ia memandang
laut dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Untuk pertama
kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa bahwa perjalanan yang ia tempuh bukan
lagi perjalanan untuk mencari sesuatu. Perjalanan ini adalah perjalanan untuk
kembali.
Sepanjang
pelayaran, Rahman sering berdiri di geladak sambil memandang laut. Ia
membayangkan rumahnya di kampung, halaman yang dipenuhi rumput liar, dan suara
ibunya yang memanggil dari dapur ketika makanan sudah siap.
Ia membayangkan
malam takbiran di nagarinya. Anak-anak menabuh bedug, orang-orang berjalan
menuju surau, dan suara takbir menggema di antara bukit-bukit.
Semua bayangan
itu terasa begitu dekat.
Namun laut
memiliki kehendaknya sendiri.
Di malam kedua
pelayaran, angin mulai berubah. Langit yang sebelumnya bersih perlahan tertutup
awan hitam. Ombak bergerak lebih gelisah, seperti sesuatu yang sedang bangkit
dari dasar laut.
Kapal mulai
bergoyang.
Para penumpang
saling bertukar pandang. Sebagian mencoba tetap tenang, sebagian lagi mulai
berdoa dengan suara pelan.
Rahman berdiri
di dekat pagar kapal. Ia memandang gelap yang membentang di segala arah. Angin
membawa bau asin yang lebih tajam dari sebelumnya.
Di dalam
dadanya, ada perasaan yang sulit ia jelaskan.
Ia memikirkan
ibunya.
Barangkali
perempuan tua itu sedang duduk di rumah, menunggu kabar darinya. Barangkali ia
sedang menyiapkan ketupat untuk Lebaran yang akan datang.
Hujan turun
tiba-tiba.
Angin melolong
di antara tiang kapal. Ombak menghantam lambung kapal dengan suara yang berat
dan panjang.
Dalam kekacauan
itu, Rahman memejamkan mata.
Ia membayangkan
rumahnya sekali lagi.
Ia membayangkan
langkahnya memasuki halaman rumah, memanggil ibunya dari pintu depan.
Dan untuk
sesaat, ia merasa sangat dekat dengan tempat yang selama ini ia rindukan.
Lalu gelombang
besar datang.
Segalanya
berubah menjadi gelap.
Pagi Lebaran
tiba di sebuah nagari kecil di Minangkabau.
Kabut tipis
menggantung di atas sawah. Dari surau terdengar gema takbir yang lembut,
mengalun bersama angin pagi.
Di sebuah rumah
kayu tua di pinggir jalan, seorang perempuan tua duduk di depan pintu. Di
tangannya ada tasbih yang bergerak perlahan.
Matanya
memandang jalan yang sepi.
Di dapur,
ketupat telah matang. Meja makan sudah disiapkan dengan rapi. Semua telah siap
untuk menyambut seseorang yang dijanjikan akan pulang.
Tetapi jalan
itu tetap sunyi.
Perempuan tua
itu masih menunggu.
Di hari yang
penuh takbir itu, di tengah kegembiraan orang-orang yang saling bermaafan,
seorang ibu masih duduk di depan rumahnya—menunggu mudik yang tak pernah
sampai. (*)
*) Redo Sobirin,
Lahir di Jambi, 06 April 2003. Sekarang kuliah di UIN Bukittinggi, Jurusan
Sejarah Peradaban Islam. Untuk Karya sudah ada beberapa terbit, baik koran,
buku, atau menulis di Web, Tapi nggak usah lah dituliskan di sini. Hobi membaca
kenangan. Motto Hidup (Menjadi pena peradaban, menulis Aksara kehidupan).
Instagram @Redo Sobirin. No HP 085263854630. Email redosobirin146@gmail.com


Komentar
Posting Komentar