KIBLAT DAN PUISI LAINNYA

 

Kiblat

 

Di dunia yang berputar, seperti kompas kehilangan arah,

manusia berjalan, dengan jarum hati yang goyah.

 Ada yang mengejar cahaya kota, hingga lupa matahari terbit dari mana.

Ada yang menimbun dunia, seperti musim tidak pernah berganti.

Lalu datanglah sebuah panggilan, yang mengajarkan tubuh untuk berdiri,

rukuk seperti pohon yang merendah, sujud seperti tanah yang menerima hujan.

 

Di situlah aku mengerti: Islam bukan sekadar arah kiblat

yang menunjuk Ka'bah—

ia adalah arah yang menata kembali

seluruh perjalanan jiwa.

 

---

 

Menahan

 

Perutku adalah laut kecil yang biasa dipenuhi gelombang keinginan.

Namun ketika puasa datang laut itu tiba-tiba menjadi tenang.

Lapar berjalan pelan seperti bayangan di siang hari,

mengikuti langkahku tanpa pernah benar-benar pergi.

 

Di dalam sunyi itu aku mendengar hal-hal yang dulu tak terdengar—

detak kesabaran, napas yang lebih pelan, dan suara hati

yang biasanya tenggelam oleh kenyang.

 

Ketika adzan magrib turun dari langit

seperti hujan pertama di musim kering,

seteguk air, menjadi laut syukur, yang tak pernah cukup diukur.

 

---

 

Surat untuk Langit

 

Doa adalah surat yang ditulis tanpa tinta.

Ia lahir dari dada lalu terbang pelan

menuju langit yang tak terlihat ujungnya.

 

Ada doa yang ditulis dengan kata-kata rapi.

Ada doa yang ditulis dengan tangan gemetar.

Ada juga doa yang hanya berupa titik-titik air mata.

 

Namun Tuhan membaca semuanya.

Karena bagi-Nya bahasa hati

selalu lebih jelas daripada huruf mana pun.

 

---

 

Roti Hangat

 

Dunia sering memanggil manusia untuk mengejar matahari

dengan tangan kosong.

Kita berlari mencari kebahagiaan

seperti pengembara mengejar fatamorgana.

 

Padahal kebahagiaan sering duduk diam

di meja makan sederhana.

Sepiring nasi hangat. Segelas air setelah haus.

Tawa kecil di ruang keluarga.

 

Syukur adalah jendela yang membuat hal-hal kecil

tiba-tiba bercahaya.

Dan ketika jendela itu terbuka, hidup yang biasa saja

menjadi roti hangat yang baru keluar dari oven waktu.

 

---

 

Sungai yang Pulang

 

Setelah sebulan menahan gelombang diri,

manusia menjadi sungai yang kembali ke lautnya.

Rumah-rumah terbuka seperti pintu musim baru.

Tangan-tangan saling bertemu seperti dua arus yang lama terpisah.

 

Kata maaf mengalir pelan

membasuh batu-batu lama di dasar hati.

Dan di hari itu manusia belajar sekali lagi—

bahwa pulang bukan sekadar perjalanan tubuh,

melainkan perjalanan jiwa yang kembali jernih

seperti sungai setelah hujan panjang.

 

 

*) Dwi Scativana Isnaeni, seorang pendidik dan penulis yang aktif mengangkat tema-tema keislaman, isu pendidikan, serta seni dan budaya masyarakat, baik dalam bentuk tulisan ilmiah maupun nonfiksi. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media cetak dan media digital. Ia juga pernah meraih sejumlah penghargaan dalam berbagai lomba esai dan opini, serta menulis beberapa jurnal ilmiah serta buku Bungai rampai, maupun tunggal. Beberapa karya yang telah diterbitkan antara lain novel Pucuk Asa dan Manis Asinnya Martabak. Selain itu, ia juga menulis buku referensi berjudul Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik.


Komentar