KETUPAT RAMADAN HANGUS

 
 

Aku bermunajat kepada Sang Pencipta
yang telah mencipta bulan Ramadan
dan bulan-bulan indah setelahnya.

Aku mengingat dengan pipi yang basah,
tak lama kering kembali—
angin menyekanya pelan.

Jauh sebelum aku dewasa,
ketika Ramadan datang,
saat bintangku masih bercahaya.

Atap pertengahan Ramadan masih hitam,
ia membangunkan lelapku.
Aku melahap sahur
dan kembali bermimpi.

Di atas papan kayu yang rapuh
tersaji ketupat Ramadan yang hangus.
Tubuh rentanya lemah.

Api yang menyala dari tungku kayu,
asap tebal sulit dikendalikan.
Ingatannya mungkin
tak sehebat dahulu.

Ramadan bukan hanya jalan menuju menang,
juga jalan menuju kenang—
pada sosok yang pernah datang
lalu pergi
tanpa menunggu aku dewasa.

Aku rindu ketupat Ramadan,
dan pada cahaya bintang
pemilik rindu.

 

Tangerang, 11 Maret 2026

 

Komentar