Langit di atas halaman masjid mulai
berubah warna ketika aroma kolak pisang menyebar ke udara.
Di dapur kecil belakang masjid,
beberapa panci masih mengepul di atas kompor. Di halaman depan, tikar pandan
digelar memanjang di bawah pohon mangga tua yang menaungi halaman. Anak-anak
berlari-lari sambil membawa gelas plastik berisi es buah yang mulai mencair.
Sesekali mereka berhenti untuk melihat jam besar di dinding masjid.
Menjelang magrib, waktu selalu
terasa berjalan lebih lambat. Semua orang menunggu adzan. Namun di salah satu
sudut halaman masjid, seorang gadis bernama Ranum justru berharap waktu
berjalan lebih cepat.
Di pangkuannya ada sebuah kotak
plastik kecil yang terasa terlalu ringan untuk dibawa ke meja takjil. Kotak itu
kecil sekali. Di dalamnya hanya ada mie goreng sederhana dan tiga potong tempe.
---
Pagi tadi, sebelum berangkat kerja,
ibunya memasak mie goreng di dapur kecil rumah mereka. Rumah itu sederhana,
berdinding papan yang mulai kusam dimakan waktu. Dari dapur, Ranum bisa melihat
halaman belakang yang hanya berisi jemuran dan sebuah pohon jambu yang jarang
berbuah.
Ibunya mengaduk mie di wajan sambil
berkata tanpa menoleh. “Maaf ya, Ranum. Ibu cuma sempat masak ini.”
Ranum langsung mengangguk. Ia tahu
ibunya bekerja dari pagi sampai malam. Ia juga tahu ibunya sudah berusaha.
Namun sekarang, duduk di halaman
masjid yang penuh makanan, kotak kecil di pangkuannya terasa seperti sesuatu
yang memalukan.
---
Di meja panjang depan masjid,
makanan mulai bertambah. Ada panci besar kolak pisang. Ada kardus berisi kurma.
Ada kotak ayam goreng yang aromanya sampai ke tempat Ranum duduk. Orang-orang
datang membawa makanan terbaik yang mereka punya. Semua makanan itu diletakkan
berdampingan di meja yang sama.
Seperti setiap Ramadan. Siapa pun
boleh membawa apa saja. Dan nanti semuanya akan dibagi.
Ranum menatap kotak plastik di
tangannya. Kotak itu kecil sekali. Ia tiba-tiba merasa kotak itu terlalu ringan
untuk diletakkan di meja yang penuh makanan. Kalau cuma ini… apa ada yang mau
makan?
Angin sore bertiup pelan, membuat
kantong plastik di tangannya berdesir. Untuk beberapa saat Ranum hanya duduk
diam. Ia bahkan sempat berpikir untuk pulang saja. Rumahnya tidak jauh dari
masjid. Ia bisa makan di rumah, lalu kembali setelah orang-orang selesai
berbuka. Tidak ada yang akan tahu.
Namun tepat saat ia hampir berdiri,
seorang bapak yang sedang menata makanan di meja berkata sambil tersenyum
kepada anak-anak yang datang membawa takjil.
“Letakkan saja di sini,” katanya.
“Walaupun sedikit tetap berpahala.”
Ranum menoleh. Bapak itu melanjutkan
dengan suara tenang.
“Rasulullah pernah bersabda, siapa
yang memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka dia mendapat pahala
seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa
sedikit pun.”
Beberapa anak mengangguk-angguk. Ranum
terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasa kotak kecil di tangannya tidak sekecil
yang ia kira. Ia mengingat wajah ibunya pagi tadi di dapur. Ibunya berkata
maaf. Padahal mungkin ibunya sedang berusaha berbagi.
Perlahan Ranum berdiri. Langkahnya
terasa berat ketika berjalan menuju meja panjang itu. Semakin dekat ia
berjalan, semakin jelas ia melihat makanan-makanan di atas meja. Kotak kecil di
tangannya terasa semakin kecil. Ia berdiri di depan meja beberapa detik. Dadanya
berdebar.
Namun akhirnya, dengan napas pelan,
ia meletakkan kotak itu di antara panci, kardus, dan kotak-kotak besar. Kotak
kecil itu hampir tenggelam di antara makanan lain. Ranum mundur satu langkah. Tidak
ada yang memperhatikannya. Tetapi entah mengapa, dadanya terasa sedikit lebih
ringan.
---
Langit mulai berubah warna. Oranye
perlahan berubah menjadi ungu tua. Beberapa orang mulai duduk di tikar. Suara
obrolan menjadi lebih pelan. Semua orang menunggu.
Lalu akhirnya suara yang dinanti itu
terdengar. “Allahu akbar… Allahu akbar…”
Adzan magrib berkumandang. Seolah
seluruh halaman masjid menarik napas lega. Panitia mulai mengambil makanan dari
meja panjang dan membaginya ke piring-piring plastik.
Satu per satu piring berpindah
tangan. Ketika sebuah piring sampai di tangan Ranum, ia melihat isinya. Ada
kolak pisang. Ada dua gorengan. Ada sedikit mie goreng. Dan ada tempe. Ranum
menatap tempe itu cukup lama. Tempe itu sangat mirip dengan tempe yang ia bawa
dari rumah.
Tiba-tiba ia tersenyum kecil. Makanan
yang ia bawa tidak hilang. Ia hanya berubah menjadi makanan yang dibagi
bersama.
---
Di sekelilingnya orang-orang mulai
berbuka. Sendok menyentuh piring. Gelas plastik beradu pelan. Anak-anak tertawa
lagi setelah minum yang pertama.
Di halaman masjid yang sederhana
itu, semua orang terlihat sama. Tidak ada yang tahu siapa yang membawa makanan
paling banyak. Tidak ada yang tahu siapa yang membawa paling sedikit. Yang ada
hanya satu hal. Semua orang makan bersama.
Ranum mengambil suapan pertama dari
piringnya. Hangat. Sederhana. Tetapi terasa sangat enak.
Ia teringat kembali kata-kata bapak
tadi tentang hadis Rasulullah. Tiba-tiba ia merasa bangga pada kotak kecil yang
ia bawa. Ia menatap meja takjil sekali lagi. Kotak kecilnya sudah tidak
terlihat lagi di sana. Tetapi ia tahu, isinya kini ada di piring banyak orang. Mungkin
begitulah cara kebaikan bekerja. Ia terlihat kecil ketika kita memberikannya. Tetapi
menjadi besar ketika dibagi bersama.
Dan di halaman masjid kecil itu,
saat lampu-lampu mulai menyala dan langit benar-benar gelap, Ranum akhirnya
mengerti sesuatu. Dalam berbagi buka, yang paling penting bukan seberapa banyak
yang kita bawa. Tetapi keberanian hati untuk ikut memberi.
*) Dwi Scativana Isnaeni, seorang pendidik dan penulis yang aktif mengangkat tema-tema keislaman, isu pendidikan, serta seni dan budaya masyarakat, baik dalam bentuk tulisan ilmiah maupun nonfiksi. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media cetak dan media digital. Ia juga pernah meraih sejumlah penghargaan dalam berbagai lomba esai dan opini, serta menulis beberapa jurnal ilmiah serta buku Bungai rampai, maupun tunggal. Beberapa karya yang telah diterbitkan antara lain novel Pucuk Asa dan Manis Asinnya Martabak. Selain itu, ia juga menulis buku referensi berjudul Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik.


Komentar
Posting Komentar