AKU, BAPAK, DAN IDULFITRI

 

        “Nak, tahun ini kamu pulang kampung, kan? Mama sudah menyiapkan kue nastar dan lontong sayur lengkap dengan rendang untukmu.”

        Suara Mama dari seberang telepon berdering dan menimbulkan getaran kuyu di hatiku. Namun dengan cepat aku menggeleng sambil membayangkan wajah yang tidak ingin aku temui.

        “Apa dia akan datang lagi, Ma?”

        Mama tidak langsung menjawab. Sembari menghela napas, Mama berkata pelan, “Iya, Nak. Dia akan datang. Kamu sudah bisa memaafkan Bapak, kan?”

Bapak?

        Ah, ternyata aku masih punya bapak. Selama ini aku hanya punya Mama dan menganggap beliau sudah tiada. Aku tidak tahu harus bicara apa dengannya, jadi aku memilih untuk diam.

        “Dimas? Bagaimana? Apa kamu jadi pulang? Kalau kamu tidak punya uang, Mama kirimkan uang, ya. Kebetulan Mama dapat banyak pesanan kue Lebaran tahun ini.”

        “Tidak usah, Ma. Dimas mau fokus menyelesaikan skripsi. Setelah Lebaran pembukaan sidang sudah dibuka. Dimas harus menyelesaikan skripsi ini supaya bisa lulus tepat waktu.”

        “Tapi, Nak…”

        “Setelah skripsi selesai, Dimas pasti pulang kok. Mama jaga diri baik-baik. Assalamualaikum.”

        “Waalaikumsalam.”

        Sejujurnya aku tidak sepenuhnya bohong. Memang benar setelah Lebaran pembukaan sidang skripsi sudah dibuka, tetapi tepatnya saat Lebaran Kurban—Iduladha—bukan Idulfitri yang tinggal menghitung hari.

        Aku tidak ingin bertemu Bapak.

        Lebih tepatnya, aku tidak pernah menyangka bahwa setelah lebih dari dua puluh tahun berlalu, dia berani menunjukkan batang hidungnya lagi kepada kami. Setelah aku dan Mama berjuang hidup selama puluhan tahun tanpa dirinya, dia kembali tanpa rasa bersalah.

        Tahun lalu aku sempat bertemu dengannya. Dia tampak kurusan. Membawa banyak uang untukku dan Mama, tetapi aku sama sekali tidak peduli.

        Dia bahkan tidak pernah mau jujur tentang alasan sebenarnya mengapa dia pergi.

        Di hatiku, Bapak sudah tidak ada. Walau fisiknya masih hidup dan sudah berkali-kali meminta maaf kepada kami—lebih tepatnya kepadaku.

        Ah, kalau terus memikirkan Bapak, skripsiku tidak akan selesai.

        Aku segera menyambar tas ransel, memasukkan laptop dan revisi skripsi yang masih harus kuselesaikan, lalu mengunci pintu kos. Teman kosku sudah mudik dua hari lalu, jadi sekarang aku tinggal sendiri untuk sementara.

        Aku mengendarai sepeda motor menuju perpustakaan daerah—tempat favoritku mengerjakan tugas kuliah. Di sana tenang, tidak panas, dan yang paling penting ada WiFi gratis. Buku-bukunya juga lengkap, jadi aku tidak kesulitan mencari referensi.

        “Wah rajinnya. Kamu masih mengerjakan skripsi juga, Mas?”

        Dinda, temanku yang juga pegawai di perpustakaan ini, menyapaku yang sedang sibuk mengetik.

        “Iya, Din. Aku harus kuat dan harus bisa lulus tepat waktu. Kasihan Mama kalau harus mengeluarkan uang lagi. Belum lagi biaya kos, makan, dan kebutuhan lainnya. Mama cuma penjual kue. Aku tidak tega terus merepotkannya.”

        “Bukannya Bapakmu sudah pulang? Oh maaf, aku tidak bermaksud…”

        “Tidak apa-apa, Din. Semua anak di kampus juga sudah tahu kalau aku punya hubungan tidak baik dengan Bapak.”

        Dinda masih kuliah, tetapi karena kepintaran dan kecerdikannya, ia diterima bekerja sebagai tenaga honorer di perpustakaan.

        Bagi mahasiswa seperti kami, bisa bekerja walaupun dengan gaji kecil adalah lompatan pertama dalam membangun masa depan.

        “Apa kamu yakin tidak mau pulang? Bapakmu pasti sangat ingin bertemu denganmu. Pulanglah, Dimas. Kasihan dia. Kalau dia tidak menyesal, tidak mungkin dia kembali sambil terus meminta maaf kepada kamu dan Mamamu.”

        “Bapak sudah tidak ada bagiku. Dia menelantarkan aku dan Mama selama dua puluh tahun. Terakhir aku bertemu dengannya saat aku berumur satu tahun. Lalu ketika aku berumur tiga belas tahun, aku melihat fotonya di Facebook dengan perempuan lain. Dia sudah menikah lagi.”

        “Sekarang untuk apa dia kembali? Apa karena dia sudah bercerai dengan istri cantiknya? Atau karena wanita itu tidak bisa memberinya anak?”

        “Jaga bicaramu, Dimas,” kata Dinda tegas. “Kamu sedang puasa dan ini masih bulan Ramadan. Apa kamu yakin Bapakmu menikah lagi hanya karena satu foto di internet? Kamu seharusnya bersyukur masih punya orang tua. Tidak seperti aku.”

        Aku terkesiap.

        Aku lupa bahwa Dinda adalah anak yatim piatu yang hanya hidup bersama adik kecilnya.

        “Aku minta maaf, Din.”

        Dinda memang luar biasa. Dewasa, berpikiran terbuka, dan juga… cantik.

        Sejujurnya, salah satu alasan aku betah di perpustakaan adalah karena bisa bertemu dengannya.

        “Kamu benar. Maaf kalau aku sedikit egois. Tapi jujur, aku bahkan tidak tahu harus berkata apa kalau bertemu dengan Bapak.”

        “Pulanglah. Kalau kalian sudah bertemu, kamu pasti bisa bicara banyak hal dengannya. Terima permintaan maafnya. Dia pasti rindu pada putranya.”

        Kata-kata Dinda membuatku berpikir lama.

        Akhirnya aku berkemas dan memesan tiket bus untuk pulang ke kampung halamanku di Brebes, Jawa Tengah. Syukurlah masih ada kursi tersisa dengan harga yang cukup terjangkau.

        Laptop dan skripsiku kubawa, sementara motor kutitipkan kepada Iwan, sahabatku yang asli Jakarta.

        Perjalanan terasa biasa saja. Aku sengaja tidak memberi tahu Mama karena ingin memberikan kejutan.

        Sebelum pulang, aku membeli satu set mukena untuk Mama dan selembar sarung untuk Bapak. Setidaknya ini adalah tanda bahwa aku mulai menerima permintaan maafnya.

        Dialog terakhir dengan Dinda terus terngiang di kepalaku. “Jangan sampai kau menyesal.”

        Bus melaju perlahan di jalan malam.

        “Permisi, bangku ini kosong, kan?”

        Aku terperanjat. Wanita di hadapanku ini adalah istri kedua Bapak. Kebetulan atau kesialan macam apa ini?

        “Boleh saya duduk di sini?”

        “Err… silakan, Mbak.”

        Wanita itu meletakkan tas ransel besar di bawah kursi dan tas kecil di pangkuannya. Ia tersenyum sebentar, lalu wajahnya berubah muram.

        “Mbak, kenapa?”

        “Ah, maaf, Mas. Saya hanya sedang memikirkan seorang pasien. Dia pasien saya selama puluhan tahun. Dia mengundang saya ke kampung halamannya untuk berterima kasih.”

        “Wah berarti Mbak dokter yang hebat.”

Wanita itu menggeleng.

        “Tidak, Mas. Dia tidak bisa sembuh dan saya gagal mengobatinya. Saya justru merasa malu datang, tetapi dia memaksa saya. Katanya dia ingin berterima kasih karena saya sudah berjuang mengobatinya.”

        “Dia pasti orang yang sangat baik.”

        “Oh iya, kita belum kenalan. Saya Dimas.”

        “Saya dokter Sinta.”

        Beberapa jam perjalanan terasa sangat panjang. Dari kejauhan, kampung halamanku mulai terlihat. Namun ketika aku turun dari bus, aku tertegun. Bendera kuning terpasang di gang rumahku. Banyak orang berkumpul di depan rumah. Bapak kini sudah tidak ada. Benar-benar tidak ada.

Mama memelukku erat dengan mata yang memerah. Aku sempat melihat wajah Bapak di balik kain putih. Beliau terlihat tenang. Seulas senyum kecil masih terukir di wajahnya.

        Mama berbisik pelan di telingaku.

        “Maafkan Bapak, Dimas.”

        Kalimat itu menghancurkan dinding keras di hatiku. (*)

 

Inong Islamiyati Abdullah, lahir di Tangerang biasa disapa dengan nama Inong. Penyuka kucing, animasi, dan mulai menyukai dunia tulis menulis. Beberapa karyanya telah tersebar di media online dan media cetak. Silakan kunjungi akun IG: @inong_islamiyati untuk mengenalnya lebih dekat.

 

Komentar