Ketika rembulan melengkung serupa sabit perak,
membelah langit yang jenuh oleh debu keduniawian.
Kita kembali berdiri di ambang pintu suci,
menanggalkan jubah ego yang selama ini menyesakkan dada.
Ramadan datang bukan sekadar lapar yang singgah di kerongkongan,
namun sebuah undangan pulang bagi jiwa yang lama tersesat di rimba fana.
Di sela detak tasbih yang bergulir di antara jemari,
ada kening yang bersujud mencari wangi tanah surga.
Kita membasuh dahaga dengan embun pengampunan,
mengganti caci maki dengan zikir yang mengalun lirih.
Sebab di bulan ini,
lapar adalah cara bumi bercerita tentang syukur,
dan haus adalah metafora tentang betapa keringnya nurani tanpa cahaya-Nya.
Biarkan malam-malam panjang menjadi saksi sunyi,
tempat air mata jatuh menghapus jelaga dosa yang mengerak.
Kita tidak sedang berpuasa dari sekadar nasi dan air,
namun sedang berpuasa dari segala yang menjauhkan kita dari hakikat.
Hingga saat fajar kemenangan tiba di penghujung jalan,
kita tak lagi menjadi hamba yang sama,
melainkan jiwa yang terlahir kembali dalam dekapan damai.
*) Isna Anggraini adalah seorang perajut kata yang gemar mengeksplorasi tema-tema spiritual dan kemanusiaan. Melalui bait-baitnya, ia berusaha menyuarakan kerinduan batin akan ketenangan hakiki. Saat ini, ia berdomisili di Jawa Timur dan aktif berbagi karya orisinal melalui berbagai platform sastra independen. Temui saya di instagram @le.isna.

Komentar
Posting Komentar