TAKBIR YANG TAK LAGI SAMA

 

Takbir tahun itu terdengar seperti tangis yang dipanjangkan.

Aku berdiri di lorong rumah sakit dengan sarung yang belum sempat kuganti. Di luar, langit malam bergetar oleh gema Allahu Akbar yang bersahut-sahutan dari masjid ke masjid. Orang-orang menyambut kemenangan. Aku menunggu keajaiban.

Ayah terbaring di ruang operasi.

Sejak siang dokter berkata penyakitnya tak bisa lagi ditunda. Operasi harus dilakukan malam ini—malam takbiran. Ayah hanya tersenyum ketika perawat mendorong ranjangnya melewati pintu yang dingin dan berlampu putih.

“Nak, jagalah Ibu,” bisiknya padaku. Tangannya hangat, tetapi nadinya bergetar seperti lilin tertiup angin.

Aku mengangguk, padahal di dalam dada aku belum siap menjadi siapa-siapa.

Lampu di atas pintu ruang operasi menyala merah. Aku dan Ibu duduk berdampingan, diam seperti dua bayangan yang lupa cara bernapas. Takbir di luar semakin keras, semakin ramai, seolah ingin membuktikan bahwa dunia tetap merayakan sesuatu malam ini.

Sementara di sini, doa kami bertarung sendirian.

Ibu meremas tasbihnya. Bibirnya bergerak tanpa suara. Aku menunduk, menatap lantai yang mengilap dan memantulkan wajahku sendiri—wajah remaja yang tiba-tiba dipaksa dewasa.

“Ya Allah, sembuhkan Ayah,” gumamku. Doaku pendek. Tangisku lebih panjang.

Jam di dinding berdetak lambat. Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk pelan-pelan. Pukul sembilan. Pukul sepuluh. Pukul sebelas.

Takbir belum berhenti.

Di sela gema itu, aku teringat tahun lalu. Ayah berdiri di ruang tamu, memimpin takbir dengan suara lantang. Aku di sampingnya, mengikuti dengan suara setengah malu. Ibu tersenyum dari dapur, menata ketupat dan opor yang mengepul.

Rumah kami penuh cahaya.

Kini cahaya itu seperti tersedot ke ruang operasi yang pintunya tertutup rapat.

Tepat ketika takbir mencapai puncaknya—ketika suara beduk dipukul cepat, ketika orang-orang bersalaman dan saling memaafkan—lampu merah di atas pintu itu berkedip.

Lalu padam.

Aku berdiri. Ibu juga.

Pintu terbuka. Seorang dokter keluar dengan masker yang sudah diturunkan. Wajahnya tak perlu banyak kata. Matanya sudah menjadi kabar.

“Maaf… kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Aku merasa lantai hilang. Suara takbir di luar berubah menjadi dengung jauh, seperti datang dari dasar sumur. Ibu menjerit pelan lalu terkulai di pelukanku. Aku menahannya, meski lututku sendiri bergetar.

Di dalam ruangan itu, Ayah terbaring diam. Lebih diam dari malam. Tangannya yang dulu selalu menepuk bahuku kini kaku. Dadanya tak lagi naik turun. Wajahnya pucat, tetapi tenang—seperti seseorang yang baru saja selesai berperang dan memilih pulang.

Takbir masih terdengar.

Namun bagiku, malam itu tak ada kemenangan.

Hanya kehilangan.

***

Lebaran datang tanpa suara.

Rumah kami dingin, meski matahari pagi memanjat jendela. Karpet hijau di ruang tamu terhampar rapi, tetapi tak ada Ayah yang duduk di ujungnya, memimpin doa sebelum berangkat salat Ied. Sarungnya masih tergantung di balik pintu kamar. Aku menyentuh kain itu pelan, seolah jika kusentuh terlalu keras, kenangan akan hancur menjadi debu.

Ibu mengenakan mukena putihnya. Wajahnya sembap, tetapi ia memaksakan senyum.

“Ayo berangkat salat Ied, Nak,” katanya lirih.

Aku mengangguk.

Kami berjalan ke masjid tanpa banyak kata. Orang-orang bersalaman, tertawa, anak-anak berlari dengan baju baru. Ucapan mohon maaf lahir dan batin bertebaran seperti konfeti.

Aku membalas seadanya.

Di saf pertama, tempat Ayah biasa berdiri, kini ada ruang kosong yang tak terlihat oleh siapa pun selain aku. Imam mengangkat tangan. Takbir berkumandang lagi.

Dan di situlah aku runtuh.

Suara itu tak lagi sama.

Dulu, takbir adalah gema kebersamaan. Kini, ia seperti pisau yang mengiris ingatan. Setiap Allahu Akbar mengingatkanku pada lorong rumah sakit. Pada lampu merah yang padam. Pada kalimat dokter yang tak bisa ditarik kembali.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku tak peduli lagi siapa yang melihat. Di antara ratusan orang yang bersujud, aku merasa sendirian.

Aku teringat pesan terakhir Ayah: Jagalah Ibu.

Kalimat itu kini menjadi beban sekaligus pegangan. Aku bukan lagi anak yang hanya memikirkan nilai ujian dan pertandingan futsal. Aku adalah satu-satunya laki-laki di rumah ini.

Salat selesai. Orang-orang saling berpelukan. Aku memeluk Ibu lebih lama dari biasanya.

“Selamat Lebaran, Bu,” bisikku.

Ia mengangguk di dadaku. Tangisnya basah di bajuku.

***

Siang itu rumah kami tetap sunyi.

Tak ada suara Ayah yang memanggilku untuk mencicipi opor. Tak ada canda tentang siapa yang paling banyak makan ketupat. Piring tersusun rapi; makanan tetap utuh lebih lama dari biasanya.

Kursi Ayah di meja makan kosong.

Aku duduk di hadapannya, menatap ruang yang tak terisi. Rasanya seperti ada lubang besar di tengah rumah—lubang yang tak bisa ditambal dengan apa pun.

Tetangga datang silih berganti, mengucapkan belasungkawa yang terlambat. Mereka bilang Ayah orang baik. Mereka bilang Tuhan lebih sayang. Mereka bilang kami harus ikhlas.

Aku mengangguk.

Tetapi ikhlas bukanlah sakelar yang bisa dinyalakan.

Malamnya, ketika tamu terakhir pulang, rumah kembali diam. Ibu masuk ke kamar lebih dulu. Aku duduk sendiri di ruang tamu, memandangi foto keluarga yang tergantung di dinding.

Di foto itu Ayah tersenyum lebar, tangannya merangkul bahuku.

“Ayah,” bisikku, “aku belum siap.”

Angin malam menyelinap lewat celah jendela. Tirai bergerak pelan, seperti seseorang yang melambai.

Aku bangkit, mengambil sarung Ayah dari kamar. Kukenakan perlahan. Kain itu kebesaran, tetapi hangatnya masih sama.

Aku berdiri di ruang tamu, mengangkat tangan.

“Allahu Akbar…”

Tak ada gema dari masjid kali ini. Hanya suaraku sendiri yang gemetar. Namun untuk pertama kalinya sejak malam itu, takbirku tidak sepenuhnya hancur.

Ia tetap sakit.

Tetapi di dalamnya ada tekad yang tumbuh pelan.

Ayah memang kalah melawan penyakit. Doa kami tak mengubah takdir malam itu. Namun mungkin doa bukan selalu tentang mengubah hasil. Mungkin ia tentang menguatkan yang ditinggalkan.

Aku menutup takbir dengan air mata yang lebih tenang.

Di luar, bulan Syawal menggantung pucat. Rumah kami masih sunyi, masih dingin. Namun di antara dinding-dinding yang menyimpan rindu, aku merasakan sesuatu yang berbeda.

Kehilangan tidak lagi sekadar luka.

Ia menjadi janji.

Janji untuk menjaga Ibu. Janji untuk tumbuh lebih kuat dari rasa takut.
Janji untuk suatu hari berdiri di saf pertama, bukan sebagai anak yang kehilangan, melainkan sebagai lelaki yang meneruskan.

Takbir tahun ini memang tak sama lagi. Ia tak lagi riuh dan penuh tawa.

Namun di balik sunyi dan dinginnya rumah, aku belajar satu hal: kemenangan tidak selalu tentang bertahan hidup. Kadang ia tentang mampu berdiri setelah ditinggalkan.

Dan di antara gema yang pernah merobek dadaku, aku akhirnya menemukan suara Ayah—bukan di ruang operasi, bukan di kursi kosong—melainkan di dalam diriku sendiri.

***

*) Ahmad Neval Fiansyah, seorang remaja laki-laki harus kehilangan ayahnya tepat di malam takbiran, saat doa dan harapan tak mampu menahan takdir. Di tengah gema kemenangan yang terasa hampa, ia belajar menerima sunyi, memeluk duka, dan tumbuh menjadi lelaki yang memikul janji terakhir ayahnya: menjaga ibu dan tetap kuat.

Komentar