Pendar lampu
di pelataran rumah
beradu dengan tabuhan beduk,
memecah kesunyian malam.
Bebas dari
bising layar,
canda tawa anak-anak berlari,
mengarak suluh bambu dengan penuh suka cita.
Bait-bait
fitri terulas di atas meja kecokelatan,
gambar menara emas berukir kalimat ampunan,
mengukir pesan hangat
untuk keluarga nun jauh di sana.
Di balik layar
kaca cembung yang mulai menua,
senandung religi terulang di ruang tengah.
Aroma opor memenuhi udara,
tanda kemenangan tiba.
Kala fajar
menyingsing, kita berjejer rapi,
berbalut busana anyar
hasil berburu di kota,
berjabat tangan dalam tempo lambat.
Uang saku
terselip di saku baju,
penyebab riang di kedai sebelah.
Fitri kala itu adalah makna hadirnya raga—
bukan sekadar unggahan maya,
melainkan dekap hangat
yang tak kunjung semu.
Sragen, 17
Februari 2026
.png)
.png)
Komentar
Posting Komentar