Oleh: Rizqia Ananda Mulya Permata
Dalam Q.S.
Al-A’raf ayat 26 ditegaskan bahwa pakaian memiliki fungsi utama untuk menutup
aurat dan sebagai perhiasan. Namun, Allah juga menegaskan bahwa pakaian takwa
adalah yang terbaik. Melalui ayat ini, manusia diperintahkan untuk bersyukur
atas karunia pakaian, berpakaian sopan, menutup aurat, serta menanamkan
ketakwaan dalam hati.
Sebagian
orang memaknai bahwa pakaian takwa berbeda dengan pakaian lahir. Pakaian lahir
mungkin sekadar menutup tubuh, tetapi belum tentu mampu menutup kehinaan batin.
Adapun pakaian takwa adalah landasan hidup yang ditambatkan pada Kitabullah dan
orientasi akhirat.
Bagi saya,
pada masa awal, hijab hanyalah bagian dari gaya dan tren. Selembar kain dengan
beragam warna yang menutup rambut, tetapi belum benar-benar menyentuh hati. Ada
masa ketika memakainya terasa berat, namun melepaskannya begitu mudah.
Perlahan,
makna itu berubah. Sepotong kain tak lagi sekadar tren, melainkan simbol
ketaatan untuk menutup aurat dengan lebih baik. Dari sinilah perjalanan itu
dimulai—perjalanan dari sekadar memakai hijab menjadi memaknainya sebagai
kebutuhan dalam keseharian.
Hijrah
sering dimaknai sebagai perpindahan dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih
baik. Dalam konteks sejarah Islam, hijrah berarti perpindahan dari Dar al-Kufr
ke Dar al-Islam. Namun, bagi saya pribadi, hijrah adalah keinginan untuk
menjadi lebih taat dan patuh kepada Allah, meski dilakukan secara perlahan dan
bertahap, tidak sekaligus sempurna.
Hijrah
membutuhkan proses. Ia adalah transformasi diri untuk mengokohkan iman,
menambah ilmu, dan membangun istiqamah. Awalnya, saya berjilbab bukan karena
Allah, melainkan karena mengikuti tren. Seiring berjalannya waktu, saya mulai
memperbaiki niat—belajar ilmu agama, memahami makna menutup aurat, dan
meneguhkan bahwa semua ini harus karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Menutup
aurat dengan lebih rapat bukan berarti saya merasa paling agamis. Justru
sebaliknya, saya menyadari betapa banyak kekurangan diri. Bagi saya, menutup
aurat adalah bentuk penjagaan marwah—bahwa yang berhak melihat hanyalah mereka
yang menjadi mahram. Keyakinan inilah yang menguatkan langkah saya.
Mengawali
hijrah memang berat, tetapi mempertahankannya jauh lebih berat. Akan selalu ada
ejekan, komentar miring, atau rasa iri dari sekitar. Namun, saya belajar bahwa
mempertahankan niat jauh lebih penting daripada mendengarkan suara-suara
negatif yang bisa melemahkan.
Perjalanan
ini mengajarkan satu hal: ketenangan hati (sakinah) tidak ditemukan dalam
kepuasan duniawi, melainkan dalam ketundukan kepada perintah Allah. Saat saya
memilih untuk konsisten, perlahan rasa tenang itu hadir dan menetap.
Sepotong
kain yang dulu terasa berat kini menjadi bagian dari identitas diri. Ia seakan
menjadi pengingat agar saya lebih berhati-hati dalam melangkah. Hijrah adalah
perjalanan seumur hidup. Hari ini mungkin saya telah berhijab syar’i, tetapi
esok perjuangannya adalah menjaga hati agar tidak riya’. Hijab mungkin sudah
dipanjangkan, namun kesabaran dan ilmu pun harus terus dipanjangkan.
Kepada
teman-teman yang sedang berada di fase awal hijrah atau berusaha menjaga
konsistensi berhijab, jangan menyerah. Hijab tidak harus langsung sempurna hari
ini, tetapi niat untuk terus belajar dan memperbaiki diri harus tetap dijaga.
Sepotong kain ini menyimpan berjuta makna—ia adalah bukti cinta kepada Allah,
perisai diri, dan langkah kecil menuju surga.
Mari
melangkah perlahan, namun pasti. Konsisten memang berat, tetapi pahalanya tak
terhingga. Semangat.
*) Rizqia Ananda Mulya Permata,
pribadi yang memandang dunia melalui harmoni dan nada. Sesuai dengan
nama indah yang disandangnya, ia membawa karakter
yang berharga dan penuh semangat dalam setiap langkahnya. Bagi Rizqia, kehidupan bukan sekadar
rutinitas, melainkan sebuah simfoni yang harus dinikmati dan dibagikan
keindahannya kepada orang
lain.
.png)

Komentar
Posting Komentar