Di
pelukan malam yang menyapa lembut,
bulan
suci menginjak tanah dengan kilau emas,
nadanya
seperti air zam-zam yang menyirami hati,
menari
di antara hening dan doa yang mengangkat jiwa.
Wajah
orang berpuasa seperti bunga bakung di padang pasir,
menahan
dahaga, tapi hati penuh kelezatan cinta-Nya,
suara
azan berkumandang sebagai panggilan suci,
menyulam
langit dengan warna harapan yang tak pudar.
Lautan
amal mengalir deras tanpa batas,
setiap
senyum menjadi pelita di jalan kegelapan,
tangannya
yang memberi bukan sekadar tindakan,
melainkan
syair yang menyampaikan pesan kemurahan.
Di
sudut masjid,
hamba
seperti butir debu yang merindukan angin surgawi,
berdoa
dengan suara yang tercekik haru,
ramadan
datang bukan hanya sebagai tamu tahunan,
melainkan
pembawa kunci kemuliaan yang abadi.
Ketika
mentari menyingsingkan ujungnya,
bukaan
menjadi pesta rasa syukur yang tiada tara,
hati
yang dulu keruh kini bersinar seperti permata,
karena
ramadan telah menyiramnya
dengan kemuliaan yang tak ternilai.
.png)
Komentar
Posting Komentar