NOMOR YANG DISIMPAN SAAT LEBARAN

“Hahaha! Petasanku lebih besar!” seru Ardi, sepupu Veron yang hanya setahun lebih tua darinya.

“Tapi petasanku lebih warna-warni!” balas Veron tak mau kalah.

Di kampung Mbah, di Pati, mereka bermain dan bercanda tanpa canggung. Para orang tua berjalan santai mengelilingi kampung sambil bersilaturahmi. Warga saling berbagi makanan meski tak begitu dekat. Hangat sekali suasananya. Setiap Idulfitri, momen inilah yang selalu ditunggu Veron dan keluarganya.

Beberapa tahun kemudian…

Kini Veron duduk di bangku kelas dua SMA. Ia berada di ruang tengah rumah Mbah bersama keluarga besarnya. Mbah dan orang tua mengobrol santai. Tawa terdengar sesekali.

Veron melirik Ardi—sepupu yang dulu paling dekat dengannya. Ardi sibuk menatap ponselnya. Sepupu-sepupu lain yang lebih kecil juga fokus pada layar milik orang tua mereka. Dulu, rasa malu hanya bertahan sebentar sebelum akhirnya mereka berlarian bersama. Sekarang, bahkan untuk saling menyapa terasa asing.

“Itu, ajak Dek Veron main. Seperti biasanya, dong. Jangan malu-malu cuma karena sudah gede. Kasihan dia,” ujar Bude kepada Ardi.

Ardi bahkan tak menoleh. Ia hanya menggeleng kecil dengan senyum tipis yang terasa dipaksakan. Keluarga menanggapinya dengan tawa ringan, seolah itu hal biasa.

Namun bagi Veron, itu tidak biasa.

Ia merasa seperti ada tali yang dulu mengikat keakraban mereka kini terputus. Seolah tembok dingin berdiri di antara canda yang pernah hangat. Perlahan, ia ikut mengeluarkan ponselnya. Ia menggulir media sosial tanpa benar-benar membaca apa pun.

Tak lama, tetangga sebelah—yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Mbah—datang berkunjung. Ruang tengah dibuat sedikit lega agar mereka bisa duduk bersama. Veron mendapat tempat di samping Ardi. Ia tak menyapa, Ardi pun hanya bergeser memberi ruang tanpa menoleh.

Sesekali Veron ditanya soal umur, sekolah, dan prestasi. Ia menjawab sopan, bahkan memperpanjang percakapan agar terdengar ramah. Ardi juga mendapat pertanyaan yang sama, tetapi jawabannya singkat, cenderung datar.

Mendengar itu, Veron semakin merasa asing. Ia teringat Ardi yang dulu antusias, cerewet, dan selalu menghidupkan suasana. Perubahan itu terasa begitu jauh.

Lama-lama Veron bosan menatap layar. Ia merasa tak sopan jika terus-menerus bermain ponsel. Ia pun ikut nimbrung dalam obrolan orang dewasa. Beberapa pujian ia terima karena sikapnya yang santun.

Namun suasana hatinya tetap sama.

Ia ingin menyapa Ardi. Ingin memulai obrolan sederhana. Tapi bayangan respons dingin tadi membuatnya mengurungkan niat. Ia kembali menyimak percakapan di ruangan itu.

***

Makan malam pun tiba.

Seperti biasa, meja dipenuhi makanan favorit Veron: opor ayam, lontong sayur buatan warga sekitar, sate ayam yang lembut, sop iga yang harum, dan camilan khas yang tak pernah ia temukan di Jakarta.

Ardi mengambil piring setelah orang-orang yang lebih tua lebih dulu mengambilnya. Lalu, tanpa banyak kata, ia mengambilkan piring dan lontong sayur untuk Veron.

Aksi kecil itu membuat Veron terdiam.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Ardi hanya mengangguk singkat.

Tak ada percakapan lanjutan. Namun entah mengapa, keheningan kali ini terasa sedikit berbeda—tidak sepenuhnya dingin.

Setelah makan, Veron sigap mengumpulkan piring kotor. Biasanya orang tua yang melakukannya, tetapi kali ini ia merasa sudah waktunya ikut membantu. Ia juga mengambil piring Ardi.

Ardi tak menolak, tak juga mengucapkan apa pun. Veron tak mempermasalahkannya dan langsung menuju dapur.

Saat ia sedang mencuci piring, langkah terdengar mendekat.

Ardi berdiri di sampingnya, mengambil kain lap bersih dan mulai mengeringkan piring.

Veron tersenyum.

Ardi membalas dengan senyum yang masih canggung, tapi kali ini tak terasa dipaksakan.

Hangat, meski tipis.

***

Hari-hari di kampung berlalu tanpa perubahan besar. Interaksi mereka tetap seperlunya. Mungkin ini fase remaja—fase yang membuat keakraban terasa berbeda, lebih kaku, lebih berhati-hati.

Atau mungkin mereka hanya sedang belajar cara baru untuk dekat.

Tak terasa, keluarga Veron harus pulang lebih dulu karena pekerjaan orang tuanya akan dimulai tiga hari lagi.

Sebelum Veron masuk ke mobil, tiba-tiba Ardi menahan bahunya.

“…Boleh tukar nomor telepon?” ucap Ardi pelan. Suaranya terdengar dingin seperti biasa, tetapi ada nada ragu sekaligus berharap di dalamnya.

Ia menunjukkan layar ponselnya yang sudah siap mengetik.

Veron hampir tertawa lega.

“Tentu,” jawabnya cepat. Ia menyebutkan nomornya dengan semangat yang tak bisa ia sembunyikan.

“Ini ya, sudah disimpan?” tanyanya setelah nomor Ardi tersimpan di ponselnya.

“Sudah. Hati-hati di jalan,” jawab Ardi singkat, kali ini dengan senyum kecil yang lebih tulus.

Veron membalas senyum itu sebelum naik ke mobil. Keluarganya berpamitan dan melambaikan tangan.

***

Perlahan, mereka mulai saling berkabar secara daring. Tak setiap hari, tak juga panjang. Kadang hanya menanyakan tugas sekolah, kadang membahas film, kadang sekadar mengirim meme sederhana.

Idulfitri memang sudah berbeda. Tak lagi seperti masa kecil yang penuh petasan dan tawa keras.

Namun Veron mulai mengerti.

Mungkin Idulfitri bukan tentang kembali menjadi seperti dulu. Mungkin ia tentang menerima bahwa kebersamaan pun ikut bertumbuh—berubah bentuk, tapi tetap ada.

Dan nomor yang disimpan saat Lebaran itu menjadi bukti kecil bahwa jarak tak selalu berarti kehilangan.

 ***

*) Aliyya Salsabila Zahra merupakan siswi SMAN 12 Kota Tangerang Selatan yang memiliki minat dalam bidang kepenulisan, khususnya cerpen. Melalui karya-karyanya, ia berupaya mengangkat tema-tema keseharian yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti relasi keluarga, perubahan sosial, serta nilai-nilai kemanusiaan. Bagi Aliyya, menulis bukan sekadar sarana berekspresi, tetapi juga cara untuk menyampaikan refleksi dan makna dari pengalaman yang sederhana.

Komentar