“Apakah Nak Tio
punya nazar yang belum ditunaikan?” suara Pak Pardi memecah kebisuan di ruang
tamu.
Tio terdiam dan
bertanya di dalam hati, bagaimana Pak Pardi bisa tahu?
Sejenak keheningan
diisi dengan detak jam dinding berlatar Ka’bah. Tio mengamati bangunan
berbentuk kubus yang menjadi kiblat umat Muslim. Bangunan suci itu dikelilingi
deretan angka satu sampai dua belas. Jarum pendek dan panjang membentuk garis
lurus vertikal di tengah-tengah.
Tio mengalihkan
pandangan, kembali menatap wajah Pak Pardi yang berkerut dengan uban yang
memutih. Lelaki ini sudah sebaiknya menikmati masa tuanya dengan santai di
rumah.
“Iya, memang ada,
Pak.” Akhirnya Tio bicara. Tidak ada gunanya juga merahasiakannya dari Pak
Pardi. Tio pun bercerita.
Tio didatangi Pak
Pardi ketika fajar baru menyapa. Dia pikir, alangkah rajinnya Pak Pardi, sudah
mau bekerja sepagi ini.
Rupanya, kehadiran
Pak Pardi untuk menunda kesepakatan mereka kemarin. Seharusnya Pak Pardi
bersama rekannya mulai melakukan renovasi rumah Tio hari ini.
“Maaf ya, Nak.
Nampaknya Bapak belum bisa mulai kerja,” Pak Pardi kembali bersuara setelah
mendengar pengakuan Tio. “Bapak takut kejadian beberapa bulan lalu kembali
menimpa Bapak.”
Tio memandangi
muka Pak Pardi. Ada raut cemas pada lelaki sepuh itu.
Tio tidak dapat
memaksa. Pak Pardi tahu jika Tio masih memiliki utang nazar dari mimpinya tadi
malam. Dalam mimpi tersebut, dia ingin Tio membayar nazarnya dulu, baru
kemudian renovasi rumah.
Pak Pardi
bercerita, sebelumnya dia pernah mendapatkan mimpi serupa beberapa bulan lalu
saat akan mengerjakan rumah Bayu. Namun, Pak Pardi mengabaikan mimpinya dan
tetap mengerjakan perbaikan rumah.
Naas, saat
memanjat tangga untuk memasang plafon, Pak Pardi terjatuh. Kakinya patah. Butuh
waktu kurang lebih satu bulan untuk pemulihan.
***
Setelah kepulangan
Pak Pardi, Tio berpikir ulang untuk melanjutkan renovasi rumah. Sepertinya dia
harus pulang kampung untuk menunaikan nazar.
Sebenarnya, sudah
hampir dua tahun lalu Tio memiliki nazar: apabila lulus PNS, dia akan
mengadakan syukuran dengan menyembelih seekor kambing di kampungnya.
Alhamdulillah, Tio lulus. Lalu dia bernazar kembali, apabila mutasi istrinya
dikabulkan, dia juga akan memotong seekor kambing.
Rupanya kedua doa
Tio dikabulkan Tuhan. Dia lulus PNS. Istrinya juga mutasi ke daerahnya sehingga
mereka tidak lagi menjalani hubungan jarak jauh.
Namun, karena
kesibukan dan harga kambing yang lumayan tinggi, nazar tersebut diganti dengan
dua ekor merpati. Jamuannya pun tidak di kampung. Tio hanya mengundang beberapa
tetangga untuk makan bersama.
Mendengar cerita
dari Pak Pardi, Tio seolah tersadar. Sepertinya pembayaran nazarnya belum
diterima. Dia tahu, bentuk jamuan yang dia lakukan tidak seperti yang dia
niatkan.
Bulan depan, dia
akan mengajak istri dan anaknya untuk pulang kampung dahulu. Nazar ini harus
segera ditunaikan. Uang untuk renovasi rumah sebagian bisa dipakai untuk
membeli dua ekor kambing.
***
“Bu, sepertinya
kita akan menunda renovasi rumah,” ucap Tio kepada istrinya.
“Kenapa, Yah?”
Istri Tio cukup terkejut karena selama ini suaminya yang ngotot ingin cepat
renovasi. Alasannya agar tidak malu saat rekan kantor berkunjung ke rumah
mereka yang sederhana.
Lalu Tio
menceritakan mimpi yang dialami Pak Pardi, calon tukang mereka. Istrinya pun
maklum.
“Memang nazar itu
harus cepat dibayar, Yah,” tutup istrinya.
***
Sebulan kemudian,
akhirnya nazar tersebut tunai sudah. Ada kelegaan dalam hati Tio. Akhirnya dia
bisa menunaikan janjinya kepada Tuhan. Hari ini dia akan mendatangi kembali
rumah Pak Pardi, melanjutkan rencana kesepakatan mereka.
Saat bertandang,
Tio terkejut.
“Bapak sudah
berpulang, Mas,” ucap Yoga, putra Pak Pardi.
“Kapan?” Tio tidak
mampu menutupi keterkejutannya.
Rupanya, sebulan
yang lalu, saat pulang dari rumah Tio, Pak Pardi mengalami tabrakan. Pak Pardi
sempat dirawat di rumah sakit kota beberapa minggu hingga kemudian mengembuskan
napas terakhirnya.
Tidak ada yang
memberi kabar kepada Tio sehingga Tio tidak tahu apa-apa dan disibukkan dengan
persiapan pembayaran nazarnya.
Saat akan pulang,
Tio teringat ucapan Pak Pardi.
“Sebenarnya mimpi
ini tidak boleh diceritakan. Takutnya ada hal buruk yang terjadi pada yang
bercerita atau yang mendengarkan karena ini membocorkan rahasia Tuhan.”
Saat itu Tio hanya
tersenyum, menganggap ucapan Pak Pardi hanya banyolan semata. Sekarang Tio
hanya terpaku. Mau percaya atau tidak dengan cerita Pak Pardi. (*)
*) Neto Kosboyo adalah guru di SMA Negeri 6 Bengkulu Selatan. Hobi membaca dan menulis. Tulisannya tergabung dalam berbagai antologi dan buku tunggal. Tiga tahun terakhir, terpilih sebagai pemenang sayembara penulisan buku cerita anak Dwibahasa Indonesia-Bengkulu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Bengkulu. Beliau dapat dihubungi melalui email netokosboyo81@guru.sma.belajar.id atau facebook Neto Kosboyo.
.png)
.png)
Komentar
Posting Komentar