MAWAR YANG GUGUR DI SAJADAH IBU

 

Aku Aruna.

Bagiku, rumah ini adalah madrasah pertama—tempat aku belajar bahwa iman memiliki aroma. Aroma mukena yang baru dicuci, wangi nangka dalam kolak, dan desau napas Ibu saat melantunkan surah Ar-Rahman. Sejak kecil, Ibu menanamkan satu keyakinan: ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan tali yang menjerat ruh agar tak lepas dari Allah.

Namun di Ramadan kali ini, aku baru memahami sesuatu yang menakutkan: kadang, saking kuatnya kita memegang tali ke langit (hablum minallah), kita lupa bahwa kaki kita masih berpijak di bumi yang dihuni manusia penuh khilaf (hablum minannas).

Di rumah sebelah, tinggal Mbak Aliyah dan putrinya, Ela. Anak kelas satu SD itu benar-benar menguji kesabaran. Ia sering nyelonong masuk rumah tanpa izin, menumpahkan air di sofa, bahkan mencoret kitab tafsirku.

“Anak itu tidak punya adab, Na,” desis Ibu suatu hari, matanya tetap menatap baris-baris Al- Qur’an. “Ibunya terlalu sibuk bekerja sampai lupa, bahwa ilmu tanpa adab itu sia-sia.”

Aku hanya diam, menelan pahitnya kalimat itu. Aku tahu mengapa Ibu begitu protektif terhadap ketenangan rumah ini. Di sudut teras, tumbuh sebatang pohon mawar yang ia rawat dengan air mata. Mawar itu bukan sekadar hiasan—namanya persis seperti adikku yang meninggal sepuluh tahun lalu, saat usianya baru setahun. Mawar itu adalah nisan hidup. Menjaga bunga itu tetap mekar adalah cara Ibu menjaga kenangan adikku agar tetap bernapas.

Maka ketika hari pertama Ramadan disambut dengan hancurnya mawar itu—batangnya patah, mahkotanya yang merah luluh di lantai seperti darah yang tumpah—aku tahu, kiamat kecil baru saja meledak di kepala Ibu.

“Siapa yang merusak Mawar Ibu?!”

Teriakan itu terdengar lebih nyaring dari azan Asar.

Sore itu, suasana berubah mencekam. Menjelang buka puasa—ketika seluruh umat diperintahkan untuk melembutkan hati—rumah kami justru menjadi medan pengadilan yang dingin.

Mbak Aliyah datang menyeret Ela. Di belakang mereka, seorang nenek tua melangkah tertatih, gemetar oleh rasa malu yang berat.


“Sujud! Minta maaf pada Bu Rahmi!” bentak Mbak Aliyah.

Ela tersungkur di atas ubin teras kami yang dingin. Tangisnya pecah; suara senggukannya terdengar seperti sayatan sembilu. Neneknya memegang tangan Ibu, memohon belas kasih dengan mata yang berkaca-kaca.

Namun pemandangan itu justru membuat jiwaku mengerut. Ibu melengos. Beliau memalingkan wajah, tegak berdiri seperti menara gading yang tak tersentuh.

“Bu Rahmi…” Mbak Aliyah terisak.

“Saya meminta maaf karena gagal mendidik anak. Saya banting tulang sendirian, kadang saya lupa menjaganya setiap menit. Tapi demi Allah, saya tidak pernah mengajarinya menjadi anak nakal. Tolong, jangan benci anak saya.”

Ibu tetap membisu. Kedinginannya terasa lebih menyakitkan daripada marah itu sendiri.

Di saat perut kami kosong karena puasa, Ibu justru sedang memelihara kekenyangan ego yang luar biasa.

“Saya akan ganti, Bu,” suara Mbak Aliyah makin pelan. “Besok saya cari tanaman mawar yang baru. Saya ganti semua yang rusak. Tolong, maafkan Ela…”

Mendengar kata 'ganti', garis keras di wajah Ibu sedikit mengendur. Beliau menoleh pelan, menatap Mbak Aliyah dengan tatapan setajam duri.

“Ya sudah,” ucap Ibu dingin. “Besok pastikan mawarnya sama bagusnya dengan punya saya yang dulu. Saya maafkan, tapi tolong, ajari anakmu tahu diri. Jangan sampai dia menyentuh pagar rumah saya lagi.”

Ibu berbalik masuk, menutup pintu dengan suara keras yang memekakkan nuraniku. Mbak Aliyah menuntun Ela pulang. Langkah mereka berat—seperti baru saja diusir dari pintu surga.

Malamnya, seusai Tarawih, aku duduk di atas sajadah dengan dada yang terasa lowong. Aku menatap punggung Ibu yang masih khusyuk berzikir; tasbihnya berputar cepat di antara jemari. Hablum minallah-nya tampak sempurna. Tapi hatiku menjerit.

Aku menarik napas panjang. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh.

“Bu…” suaraku serak. “Jika Allah adalah Yang Maha Pengampun tanpa syarat, lantas Tuhan mana yang sebenarnya kita sembah di rumah ini?”


Ibu tertegun. Tasbih di tangannya berhenti berputar.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar, “Mengapa maaf kita harus memiliki harga, Bu? Mengapa kita harus merasa lebih suci, sementara kita tega membiarkan seorang ibu bersimpuh dan dihina hanya karena sebatang bunga? Apa Ibu tidak takut, doa-doa kita tak tembus ke langit hanya karena ada hati yang terluka oleh perlakuan kita?”

Aku menunduk, tubuhku gemetar. Antara takut dimarahi atau diusir, aku hanya berharap kata- kataku tadi tidak lahir dari dosa, melainkan dari kasih yang ingin mengingatkan.

Satu hal yang kupahami malam itu: sajadah Ibu menjadi saksi, bahwa ibadah yang paling berdarah-darah bukanlah bangun di sepertiga malam untuk tahajud, melainkan meruntuhkan gunung ego di dalam dada sendiri.

***

Aku menatap mawar yang patah di luar jendela. Di ujung batang yang terluka itu, kulihat tunas kecil yang masih utuh. Ia tumbuh tanpa syarat, ia mekar tanpa meminta ganti rugi. (*)

 

 

*) Amelia Huaidah, lahir dan menetap di Jawa Tengah. Ia adalah seorang perempuan yang setiap harinya gemar mempelajari bahasa Inggris dan mendalami dunia literasi. Baginya, menulis adalah cara terbaik untuk merekam pelajaran hidup dan berbagi pesan kebaikan kepada sesama. Cerpen "Mawar yang Gugur di Sajadah Ibu" merupakan salah satu bentuk perenungannya tentang pentingnya menjaga hubungan baik antarmanusia di sela ibadah kepada Sang Pencipta. Amelia dapat disapa melalui instagram @mlyhw_.


Komentar