Ramadan baru berjalan tiga hari ketika Nara menemukan masjid di dalam jam
pasir.
Awalnya ia hanya mencari
kotak pensil lamanya di loteng rumah nenek. Debu beterbangan setiap kali ia
melangkah, membuat cahaya sore tampak seperti hujan bintang yang diam di udara.
Di sudut lemari kayu yang hampir runtuh, sebuah jam pasir berdiri miring,
seolah kelelahan menunggu waktu selesai. Nara mengambilnya, lalu membalikkan
kaca bening itu tanpa berpikir apa-apa.
Butiran pasirnya tidak
jatuh.
Sebaliknya, mereka naik
perlahan, seperti sedang mengingat jalan pulang ke langit. Sedikit demi
sedikit, pasir itu berkumpul di bagian atas, membentuk sesuatu yang membuat
Nara menahan napas. Sebuah kubah kecil, dengan menara yang nyaris sempurna.
Masjid.
Nara belum tahu, jam pasir
itu hanya akan bergerak setiap kali ia berhasil menahan sesuatu yang lebih
berat daripada sekadar lapar.
***
Keesokan harinya di
sekolah, Nara membawa jam pasir itu di dalam tasnya yang berwarna biru terang,
terbungkus sapu tangan agar tidak pecah. Ia tidak tahu kenapa, tapi rasanya
seperti membawa rahasia yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun.
Saat istirahat, Riko
membuka bekal tepat di depan wajahnya.
“Ayam goreng,” katanya
sambil menggoyang-goyangkan kotaknya. “Kamu nggak puasa, kan? Kemarin juga
minum diam-diam, haha!”
Nara menggenggam tali
tasnya. Ia ingin bilang bahwa itu tidak benar. Ia ingin bilang bahwa kemarin ia
hanya berkumur terlalu lama. Ia ingin bilang banyak hal yang semuanya terdengar
seperti marah.
Perutnya kosong, tapi
dadanya terasa panas dan lebih penuh dari biasanya.
“Aku puasa,” jawabnya
akhirnya, pelan.
Riko tertawa kecil, lalu
berlari keluar kelas bersama yang lain. Nara tidak mengejar. Ia tetap duduk,
menatap meja yang tiba-tiba terasa terlalu luas. Tangannya masuk ke dalam tas, membuka
bungkusan sapu tangan dan menyentuh permukaan kaca jam pasir.
Butiran di dalamnya
bergerak.
Naik, perlahan. Berkumpul
di bagian atas. Menara kecil itu tampak lebih tinggi dari kemarin.
Sore harinya di rumah,
Nara membalik jam pasir itu lagi. Kali ini, pasirnya jatuh seperti biasa. Dan
di tengah kubah yang hampir sempurna, ada retakan tipis yang sebelumnya tidak
pernah ada.
Dua hari setelahnya,
retakan di kubah itu belum juga hilang.
Nara sudah mencoba tidak
mengeluh saat sahur yang terlalu pagi, tidak cemberut saat harus membantu ibu
membereskan meja, bahkan tidak protes ketika listrik padam tepat sebelum ia
menyelesaikan tugas. Setiap kali ia berhasil menahan diri, pasir di dalam jam
itu kembali bergerak naik dengan pelan, seperti sedang ragu. Namun retakan itu
tetap di sana.
Sampai siang itu, ketika
Riko menyenggol lengannya di koridor.
Jam pasir di dalam tasnya
terjatuh.
Suara kaca beradu dengan
lantai membuat jantung Nara ikut jatuh. Ia berlutut cepat, memeriksa apakah ada
yang pecah. Untungnya tidak. Tapi ketika ia mengangkatnya, Riko sudah berdiri
di depan dengan senyum miring yang tidak Nara suka.
“Rahasia apaan sih?”
tanyanya. “Jangan-jangan bawa minuman buat buka nanti.”
“Aku nggak bawa apa-apa!”
kata Nara, terlalu keras.
“Bohong.”
Entah dari mana datangnya,
panas itu naik sampai ke tenggorokan. Lebih panas dari lapar. Lebih panas dari
siang yang menempel di dinding sekolah.
“Kamu yang bohong!” balas
Nara. “Kamu pikir semua orang kayak kamu? Nggak bisa puasa sehari aja!”
Koridor tiba-tiba sunyi.
Riko tidak tertawa kali
ini, wajahnya memucat. Nara juga tidak merasa menang, ia hanya merasa sesuatu
di dalam dadanya jatuh...persis seperti jam pasir tadi.
Saat dibalik di rumah,
pasir di dalamnya tidak lagi bergerak naik. Ia jatuh cepat, seperti sedang
terburu-buru meninggalkan sesuatu. Dan retakan di kubah itu melebar, memisahkan
menara kecil dari dinding masjid yang hampir jadi.
Sejak hari itu, Nara
jarang membalik jam pasirnya.
Ia tetap berpuasa, tetap
membantu ibu, tetap berusaha tidak mengeluh—meski retakan di dalam kubah itu
tidak pernah benar-benar hilang. Kadang pasirnya naik sedikit, kadang jatuh
lebih cepat dari biasanya. Nara tidak lagi tahu apakah ia sedang memperbaiki
sesuatu, atau justru membuatnya semakin rusak.
Hingga malam takbiran
tiba.
Takbir bergema dari masjid
dekat rumah, berlapis-lapis seperti ombak yang datang tanpa henti. Nara duduk
di lantai kamarnya, jam pasir di pangkuannya. Ia membaliknya pelan. Pasirnya jatuh. Cepat...terlalu cepat.
Retakan di dalam kubah itu
kini terbuka lebar, hampir memisahkan seluruh bangunan kecil yang telah susah
payah terbentuk selama berhari-hari. Nara menelan ludah. Ia tahu, jika butiran
terakhir jatuh, masjid itu akan hilang sebelum Idulfitri datang.
Ia memejamkan mata.
“Aku minta maaf,” bisiknya,
tidak yakin untuk siapa. Untuk Riko. Untuk ibu. Untuk dirinya sendiri. Ia
teringat semua kata yang hampir diucapkannya, semua keluhan yang sempat lolos,
semua marah yang tidak sempat ia tahan.
Takbir terus bergema. Dan
di dalam jam pasir itu, satu butir yang hampir jatuh… berhenti.
Lalu bergerak naik.
Disusul butiran lain.
Pelan, tapi pasti. Pasir-pasir
itu kembali berkumpul di bagian atas, menutup retakan yang sempat memisahkan
dinding dari menara. Kubah kecil itu menyatu lagi, utuh, bercahaya lebih lembut
dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, Nara merasa puasanya sampai ke sesuatu
yang tidak bisa ia lihat.
Pagi Idulfitri datang
pelan-pelan. Sebelum keluar kamar, Nara membalik jam pasirnya sekali lagi. Pasirnya
tidak jatuh. Ia tetap di atas, membentuk masjid kecil yang utuh—tanpa retakan,
tanpa celah. Nara menatapnya lama, lalu berbisik, “Ternyata puasa bukan tentang
seberapa kuat aku menahan lapar…”
Ia menggenggam jam pasir
itu di dadanya.
“…tapi seberapa kuat aku menjaga hatiku agar tidak ikut jatuh.”
*) Aliyya Salsabila Zahra merupakan siswi SMAN 12 Kota Tangerang Selatan yang
memiliki minat besar dalam dunia kepenulisan, ia berupaya menyampaikan pesan
moral dengan pendekatan imajinatif yang ramah anak, sehingga cerita tidak hanya
menghibur, tetapi juga membangun kepekaan sikap dan emosi pembaca.
.png)

Inspiratif... Semangat terus Aliyya
BalasHapus