Malam mulai menunjukkan kepekatannya, dengan kabut yang menandakan bahwa
sebentar lagi udara akan memberi kedinginan yang cukup untuk membuat tubuh
tergulung selimut tiga lapis.
“Ahhh… apalah, mengapa mata ini harus terbuka?” Mata madu yang cerah
namun terlihat sayu menatap jam dinding bundar bermotif kaligrafi. Jarum pendek
menunjuk angka dua. “Wow… tumben banget gua bangun jam segini. Biasanya juga
nggak bangun,” gumamnya. Pikirannya ingin kembali tidur, namun tubuhnya tak
mengantuk dan terasa segar. “Tahajud ajalah.”
Langkahnya tegap mengambil air wudu. Gadis bermata madu itu sedikit
meringis kala bersentuhan dengan air yang mengalir dari keran dapur. Katanya
sih dekat, soalnya kalau ke kamar mandi jauh, dia malas.
***
Pukul 07.35 Pagi
“Nanti ikut aja, Nin. Seenggaknya satu keluarga itu harus ada yang
ikut.”
Sungguh pagi yang menyebalkan, disambut dengan omelan yang bisa sepanjang KRL
jika diselingi bantahan.
“Tapi Bu, ada Dhani kan yang ikut. Ada juga Kak Dean.”
Mata galak sang ibu menatap gadis yang dipanggil Anin itu.
“Anin, mereka nabuh. Lagian nanti malam kamu mau ke mana? Dah lah, ikut
aja kajian. Nggak jauh kok, paling setengah jam ke kampung sebelah. Kalau mabuk
minum Antimo dulu, jangan lupa bawa minyak angin sama minuman segar biar nggak
muntah. Susah amat.”
Bukan apa-apa, Anin hanya tidak mau mengikuti acara itu. Jiwa tidak
percaya dirinya sudah mendarah daging, menjadi ketakutan tersendiri. Padahal
kata ibunya, dia berpotensi. Hanya saja… terkubur. Tepatnya, introvert.
Adzan Magrib terdengar. Helaan napas dari mulutnya terdengar keras,
menandakan betapa malasnya ia. Namun terlanjur sudah.
“Nggak usah manyun. Buka puasa dulu yang banyak.”
Anin hanya mengambil beberapa gorengan, nasi, dan lauk. Tidak banyak sih, hanya
seperti makan orang tiga porsi—hehe—ditambah dua gelas cincau jagung buatan
ibunya. Favoritnya, nggak main-main.
“Kalau kamu mau ikut, ibu kasih lima puluh ribu.”
Anin berhenti. Binar di matanya menyala. Itu hadiah yang tak mungkin
ditolak.
“Iya, ikut.”
Ia tersenyum di sela kegiatan makannya, kini penuh kupu-kupu di hatinya.
Sang ibu hanya geleng-geleng kepala. Entah mengapa sejak kecil Anin memiliki
kesukaan berlebihan terhadap uang lima puluh ribu. Menurut Anin, lima puluh
ribu adalah uang yang sangat cantik, bahkan melebihi seratus ribu. Aneh sekali.
Saking obsesinya, di kamarnya tersimpan 105 lembar uang dengan nominal yang
sama. Coba dihitung totalnya… heuh.
***
“MasyaAllah…”
Mata madu itu bersinar kala turun dari bus bersama warga lain yang ikut kajian.
Gamis hijau berpadu motif garis krem pastel, ditambah jilbab pashmina senada,
menambah kesan manis pada wajah mudanya. Bibir sweet-nya tersenyum lebar
melihat ribuan orang duduk di depan panggung majelis yang besar.
“ANIN!!!”
Matanya mencari sumber suara.
“Sini! Di depan panggung!”
Kebahagiaan meluap di hatinya. Ia berlari kecil meninggalkan warga yang
menuntunnya sejak tadi.
“Eh… nduk.”
Mbah Situn, namanya. Beliau menyusul setengah berlari.
“Untung di depan, lebih jelas lihat Mas Hadroh.”
Suara gaib Mbah Situn memenuhi hati Anin dan membuat senyumannya selebar
pisang yang baru ia makan. Anin dan Nina—teman sekolahnya yang terpisah dua
tahun—kini duduk manis di barisan ketiga, tepat di depan panggung.
“Baru kali ini ikut, kan? Dijamin seru, Nin,” ucap Nina sambil memeluk
bahu Anin.
“Kamu manis banget malam ini. Pengen gigit deh.”
Bibir julid andalan Anin muncul otomatis.
“Jangan kawin dulu ya, Nin. Kamu nggak cocok.”
Anin hanya tersenyum, menunggu apa yang akan terjadi di atas panggung.
Acara berlanjut syahdu. Lantunan ayat Al-Qur’an dan selawat menggema di
setiap sudut ruang terbuka itu. Jujur, baru kali ini Anin merasakan kebahagiaan
melebihi mendapatkan uang lima puluh ribu. Entah kenapa, bahagia saja.
Mendengar musik rebana selaras dengan suara vokalis hadrah membuat hatinya… ya,
begitu lah. Intinya, MasyaAllah.
Tiba-tiba lantunan selawat Al-Hijrotu terpotong syair Thola’al Badru.
Ribuan orang berdiri. Anin ikut berdiri.
“Ada apa sih?”
Matanya melebar kala menangkap sosok pria tua berjubah putih dengan
imamah yang menambah kharisma kebijaksanaannya. Namun bukan itu fokusnya. Di
belakang kiai itu berjalan pria muda, tinggi dan tegap, berkulit bersih,
wajahnya mendekati gaya K-pop.
“Astaghfirullah, Na! Itu kan?”
Nina menatap Anin bingung.
“Loh, kamu baru tahu? Kak Fahri itu anak ustaz.”
Anin mengangguk. Semburat merah muncul di pipinya, makin lama makin panas.
“Kamu kenapa sih? Kayak abis lihat aib sendiri. Iya, tahu dia ganteng,
tapi nggak gitu juga kali.”
Anin menggeleng.
“Kalau tahu dia ada di sini, aku nggak mau ke sini.”
Syiiran berlanjut syahdu di tengah kepanikan hatinya. Jamaah kembali
duduk.
“Nin! Kamu kenapa sih?”
Anin hanya menggeleng dan menunduk.
“Kamu tahu nggak? Kak Fahri baru selesai sekolah di Turkiye. Kita lulus,
dia ke sana.”
Wajah Anin semakin gelisah.
“Anin, kamu kenapa?”
Anin memilih diam.
“Dipersilakan kepada Ustaz Fahri untuk mengisi ceramah malam ini.”
Apa…?
Anin mengangkat kepala. Pria itu duduk di kursi penceramah, mengambil
mikrofon.
“Ya Allah, semoga matanya nggak lihat aku.”
Sayangnya, Allah punya rencana lain. Tatapan Fahri menangkap netra madu
milik Anin. Panik. Gelisah. Ia ingin mengalihkan pandangan, tapi seolah matanya
terpaku.
“Aduh, Kak Fahri, kenapa lagi lihat sini. Semoga lupa…”
Untungnya, Fahri melanjutkan ceramah. Mungkin hanya perasaannya saja.
Pukul 23.05 Malam
Orang-orang mulai pulang. Kantuk menyerang Anin. Untung Mbah Situn
menggandeng tangannya pulang. Takut hilang, katanya. Anak ini kalau dipancing
lima puluh ribu, ikut aja.
***
“Sahur… sahur… sahurrr… sahurrrr…”
Telinganya sedikit terganggu. Namun, mengingat omelan sang ibu dan ayah—yang
bisa membuat telinganya serasa berdarah—ia pun bangkit. Seperti biasa, ia
mencuci muka, menggosok gigi, dan berwudu. Sedikit menyisir rambut, lalu
melaksanakan tahajud satu salam saja, katanya. Malas soalnya.
Mata yang masih menyipit itu sedikit terbuka karena penasaran.
“Mengapa ibu sama ayah rame banget sih, ketawa ketiwi?” gumamnya.
Ia melipat mukena. Jujur saja, mata madu itu belum sepenuhnya melek.
Tepatnya, nyawanya masih ada yang malas ngumpul, jadi ya begitu—kayak orang
malas tingkat Monas.
Rambut sebahunya tergerai tanpa ikat. Ia masih mengenakan baby doll
berlengan pendek dengan celana panjang bermotif Pikachu. Langkahnya menuju
ruang tengah yang biasa digunakan sahur sekeluarga. Terus melangkah dan…
“Ibu sahur sama apa?”
Tak ada jawaban.
Anin masih sibuk mengucek kedua matanya yang setengah tertutup.
“Bu…”
Merasa tak ada jawaban, ia mencoba melihat. Ada apa? Jantungnya nyaris
berpindah tempat. Pipi kenyalnya seketika memerah. Tangannya bingung antara
menutup mata atau menutup rambut—auratnya ada di rambut, tapi matanya…
“Ibu kenapa nggak bilang!!!”
Ia segera berlari menuju kamarnya, panik lagi setelah kepanikan semalam.
“Ngapain Kak Fahri ada di mari? Emang rumahku semalam ada apa sih? Haduhhhh…”
Ia menutup wajahnya dengan bantal, lalu menelungkupkan badan ke kasur
sambil berguling-guling, menahan malu.
“Anin! Ayo sahur,” ajak sang ibu.
“Nggak mauuu!” teriaknya dari dalam.
Ia tak mau bertemu Kak Fahri sebelum rasa malunya habis. Namun pintu
terbuka, menampakkan raut sang adik kecilnya, Dhani.
“Teh, keluar. Ayo sahur, tuh ditungguin. Keluarga besar.”
Wajah Anin masih memerah. Ia bingung—benar juga, ada tamu. Masa ia
berdiam di kamar? Tapi kenapa tamunya harus sahur, sih? Kayak waktu lain nggak
ada aja.
Ia menghembuskan napas kasar. Mengenakan hijabnya, mencoba setenang
mungkin, berharap terlihat seperti baru bangun dan kejadian tadi hanyalah
mimpi. Langkahnya menciut saat tiba di ruang tengah. Semua terdiam.
“Haduh, ketawa kek tadi. Kayak aku artis aja,” gumamnya gugup, lalu
duduk di sebelah ibunya. Ia ingin memarahi orang tuanya karena tak ada yang
memberi tahu, tapi takut dosa.
“Makan, Nin. Jangan diem mulu.”
Uhhh… itu suara Kak Fahri. Semoga dia lupa kalau kami pernah kenal.
Namun melihat senyumnya yang manis, Anin hanya bisa menunduk. Yah, begitulah
anak muda—malu nggak jelas. Makanan disuapnya tanpa selera sambil mendengarkan
percakapan mereka.
“Jadi Mas Fahri nginep di rumah Bude Rodiyah semalam?”
Fahri tersenyum lalu mengangguk sopan.
“Makasih, Pak, sudah ngajak saya sahur di sini. Saya soalnya bingung mau
ngomongnya gimana.”
Telinga Anin menajam.
“Saya ada maksud kenapa saya berniat sahur bersama bapak, ibu, Anin, dan yang
lain.”
Suapannya melambat. Mata pria itu melirik ke arah Anin yang makannya
terhenti, lalu tersenyum. Dari saku koko-nya, ia mengeluarkan selembar kertas
cokelat yang sedikit lusuh, seperti sudah lama tersimpan. Tulisannya tak
memudar, meski terlihat rapuh.
Anin menajamkan pandangan. Apa itu?
Matanya menangkap inisial di bagian bawah kertas itu: ~A dan F~.
Tak asing. Seketika matanya melotot. Ini yang ia takutkan—kenapa aibnya masih
terawat seperti museum?
“Tujuan saya ke sini, ingin mewujudkan isi kertas yang anak bapak
tulis.”
Tangan Anin siap merebut, namun Dhani lebih lincah. Kertas itu pun
dibacanya.
“Kak, aku nggak mau tahu.
Aku cuma mau ngasih tahu, aku suka Kakak.
Aku mau Kakak ngelamar aku, terus jadiin aku istri Kakak.
Jawaban Kakak cuma ada dua, yaitu iya atau mau.”
~A dan F~
Wajah Anin memerah. Surat lima tahun lalu. Sebelum ia lulus SMP. Waktu
itu ia masih sangat kecil, bukan? Menulis itu ke Kak Fahri karena katanya dia
ganteng dan baik. Aduh, sudah, jangan nostalgia.
“Itu… surat… kan zaman saya masih… eh… hehe… masih… hehe… gitulah, Kak.”
Fahri tersenyum.
“Kalau aku, sih… maaf nggak jawab surat kamu. Aku bacanya juga waktu
itu, Zahra ngasih di bandara saat aku mau ke Turkiye. Aku berharap sampai aku
balik, kamu masih belum ada yang punya. Tapi kalau boleh jujur, aku sudah
serius sebelum kamu maksa aku jawab ‘iya’ atau ‘mau’. Bahkan aku nambahin niat
itu.”
Anin melongo. Makannya berhenti total—padahal tinggal tiga suap.
“Dan niat aku hari ini, aku pengin kita nikah di KUA dulu. Setelah
Lebaran, baru resepsi.”
Anin bingung. Perasaan SMP-nya ternyata sekuat ini. Tangannya
berkeringat.
“Aku berani, karena aku yakin kamu bakal nerima aku, Nin. Aku sudah
istikharah juga. Kamu jodoh Kakak.”
Sungguh pria berani—melamar gadis dengan lancar dan terhormat di depan
orang tuanya.
“Nak Fahri yakin?”
Fahri mengangguk mantap.
“Nin?” tanya ibu.
Anin menatap ibunya, mencari jawaban. Sahur ini ia masih jomblo, nanti
buka puasa sudah jadi istri orang.
“Tenang, maharnya aku sediain banyak uang lima puluh ribu,” ucap Fahri
sambil tersenyum.
Hati Anin membuncah bahagia. Kini bukan karena uang lima puluh ribu,
melainkan karena Kak Fahri masih mengingat kecintaannya. Wajahnya terlihat
segar sekaligus gelisah.
“Nin?”
Anin masih diam.
“Kak, aku belum bisa masak enak. Aku manja, aku nggak sabaran, dan aku
juga—”
Ucapannya terpotong.
“Kamu tinggal jawab: iya atau mau.”
Skak mat. Kata-katanya copy-paste dari surat lama itu. Wajah Anin
memerah semakin dalam. Kepalanya mengangguk kecil—bukan menjawab iya atau mau,
tapi anggukan itu cukup jelas.
“ALHAMDULILLAAAH!”
Semua berseru bahagia.
“Tapi nanti sore Anin belum mau masakin buat buka puasa. Beli aja ya,
Kak,” ucap Anin sambil tertawa kecil.
Fahri tersenyum menatap wajah mungil itu. Ingin sekali rasanya
menggenggamnya, namun…
“Tinggal enam jam lagi,” ucapnya dalam hati. (*)
.png)

Komentar
Posting Komentar