Dentingan jam kian melambat,
dengan sebuah misi yang harus dituntaskan.
Siang terik bersama dahaga,
malam tenang bersama ibadah.
Gemerlap lentera menghiasi Ramadan,
membakar serpihan rindu yang tertanam di dalamnya,
menerbangkan sisa-sisa abu kebaikan
pada tiap makhluk yang menyatakan iman.
Kumandang Subuh pertanda dimulai,
memeluk erat satu niat
dengan pertahanan pondasi khidmat,
hingga azan Magrib mengudara membawa rahmat.
Kesyahduan alam menyuarakan sepi.
Lantunan ayat suci bergema di hati
di antara khusyuk dua puluh satu rakaat,
membentuk cinta abadi pada Sang Maha Kuat.
Tak terasa semua berlalu,
menyisakan aku kembali termangu,
menatap rembulan yang tak pernah semu,
menyisakan satu kejutan yang paling ditunggu.
Sepuluh malam terakhir menjadi pertanda,
terselip anggun di celah satu malam—
Lailatulqadar, nama agungnya,
bak rembulan menggantung di relung Ramadan.
Tak terasa semua berlalu, menyisakan aku kembali termangu;
kali ini Ramadan benar-benar berlalu,
menyisakan harap dan rindu
untuk kembali bertemu.
*) Na’ilah Ripani
Putri, lahir di pulau terpencil Anambas, 05 Juni 2009. Sekarang
sedang menempuh jenjang
SMA di ICBS Payakumbuh. Mulai menunjukkan minat menulis ketika SMP di
pondok untuk sekedar mengisi waktu luang dan mencurahkan perasaannya. Hingga
saat ini dia telah menerbitkan empat puisi lainnya. Untuk saling kenal bisa
follow @na.ilahrpnia_

Komentar
Posting Komentar