Ramadan selalu datang seperti rahasia
tidak pernah benar-benar memberi tahu
apakah ia tiba esok,
atau menunggu lusa
dengan langkah yang lebih pelan.
Semua orang seperti menengadah ke langit,
menanti kabar yang tak kasat mata.
Dan ketika ia benar-benar datang,
dunia di sekelilingku berubah rupa.
Aku mengenalnya
sebagai bulan ibadah.
Tapi yang kulihat bukan sekadar ibadah,
yang kulihat adalah wajah-wajah
yang entah bagaimana lebih bercahaya.
Aku belum mengerti
apa yang membuat cahaya itu berbeda.
Aku hanya tahu
mereka tak makan dan tak minum
sejak pagi sampai senja.
Di sore hari,
suara ayat-ayat suci mengalir
dari rumah-rumah dan musala kecil.
Di malam hari,
langkah-langkah tergesa menuju masjid
seakan ada janji yang tak ingin terlewat.
Teman-teman bermainku
ikut menjalaninya.
Sebagian bercerita dengan bangga,
sebagian lagi,
diam-diam
menyantap snack dari dalam tasnya
dengan wajah setengah bersalah,
setengah takut ketahuan.
Pernah aku bertanya,
“Puasa enak tidak?”
Seorang temanku menjawab panjang sekali
seribu kata tentang sabar, pahala, lapar,
dan kebahagiaan saat azan magrib terdengar.
Jika diringkas, jawabnya hanya satu,
enak.
Aku ingin seperti mereka.
Tidak,
bukan karena terpaksa,
bukan pula karena keluargaku menjalaninya.
Keluargaku punya waktu yang berbeda
untuk percaya dan berdoa.
Ada sesuatu pada Ramadan
yang membuat malam terasa hidup.
Aku senang bermain di luar
ketika mereka berjalan menuju masjid,
menjalankan salat berkali-kali.
Ah, itu namanya tarawih.
Orang-orang luar biasa, pikirku.
Begitu bersemangat mencintai Tuhan
dengan cara yang begitu tekun.
Dan di antara semua perbedaan itu,
aku berdiri sebagai penonton kecil
yang belum sepenuhnya mengerti,
namun diam-diam menyukai
cara dunia berubah selama sebulan.
Ramadan mungkin hanya datang sebentar,
tapi ia meninggalkan rasa
yang tinggal lebih lama dari waktu.
Dan mungkin
suatu hari nanti
aku akan memahaminya,
bukan hanya dari apa yang kulihat,
melainkan dari apa yang kurasakan.
*) Bagas Aji Dariansyah adalah mahasiswa Ilmu
Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur yang tumbuh di
antara percakapan-percakapan sederhana, ruang komunitas, serta perjumpaan
dengan banyak orang dan cerita. Ketertarikannya pada tulisan berangkat dari kebiasaan
mengamati hal-hal kecil yang sering dianggap biasa seperti hiruk pikuk jalanan
kota, suasana senja di pedesaan, hingga setiap obrolan ringan yang diam-diam
menyimpan makna.
Pengalamannya sebagai wartawan pers mahasiswa, relawan sosial, serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan komunikasi publik membawanya berjumpa dengan beragam latar kehidupan. Dari sana ia belajar bahwa cerita tidak selalu lahir dari peristiwa besar, melainkan dari keseharian yang jujur dan dekat dengan manusia. Humor, kenangan masa kecil, dan relasi sosial menjadi ruang yang sering ia kunjungi kembali melalui tulisan.
Sebagai penerima Beasiswa Bank Indonesia, Bagas aktif membangun kolaborasi lintas komunitas dan kerja sosial. Namun di sela aktivitas tersebut, menulis tetap menjadi cara paling tenang baginya untuk pulang, mengumpulkan kembali ingatan, mendengarkan suara-suara yang pernah ditemui, dan merawat hal-hal sederhana yang membuat hidup terasa hangat.


Komentar
Posting Komentar