DI HADAPAN CAHAYA

 

Di bawah kelopak malam yang lirih,
sabit bulan meneteskan doa
pada gugusan cahaya yang berjaga.
Wahai jiwa-jiwa yang dahaga akan sentuhan-Nya, datanglah—
sebab pada pekan ini rahmat turun
bagai embun yang tak pernah letih mengalir.

 

Sebuah ziarah batin pun dimulai
di hamparan waktu yang disulam cahaya iman.
Ia merengkuh kita dalam pelukan terang
yang tak mengenal batas ufuk.

 

Tuhanku—
di puncak sunyi yang paling hening,
bara rindu kepada-Mu menyala tanpa padam.
Ia menjelma suluh,
menuntun langkah yang terseok
menuju rida-Mu yang tak bertepi.
Engkaulah muara
bagi hati-hati yang retak oleh gelisah.

 

Duhai Yang Maha Mengasihi,
teteskanlah pijar petunjuk ke relung dada kami.
Di sela penat dan riuh dunia,
Engkaulah lentera yang tak pernah redup,
membentangkan cahaya
di setiap tapak perjalanan kami.

 

Kami adalah perahu-perahu kecil
yang berlayar di samudera kasih-Mu yang tak tersukat.
Di kedalaman sunyi
kami menemukan damai—
dalam tasbih yang bergetar pelan,
dalam zikir yang tak ingin putus dari langit.

 

Pada bulan yang dimuliakan ini,
biarkan nurani kami berkilau
bagai bintang yang tak gentar oleh gelap.
Teguhkan langkah kami di jalan yang lurus,
naungi kami dalam bias cahaya-Mu,
pada pekan yang Kau limpahi keberkahan ini.

 

Gresik, Februari 2026



*) Ainun Athiyah lahir di Gresik pada April 2003. Ia adalah lulusan D3 Perpustakaan Universitas Airlangga yang aktif dalam dunia literasi dan kepenulisan. Karya puisinya telah dimuat di berbagai media serta meraih penghargaan dalam lomba cipta dan baca puisi. Selain menulis puisi bertema spiritual dan reflektif, ia juga menulis novel remaja di platform digital. Bagi Ainun, menulis adalah cara menyalakan makna—tempat iman, luka, dan harapan bertemu dalam bahasa.

 


Komentar