KARDUS AJAIB

 

"Meow!  Meow!! Meow!!!"

Cuaca di luar rumah sangat cerah. Langit biru dengan awan putih beragam bentuk terlihat cantik. Angin terasa sepoi-sepoi, menggoyangkan tanaman ibu di teras depan.

Cici terlihat sudah berganti pakaian sekolah. Jilbab sekolahnya yang bewarna merah dan putih terkena oleh saus saat membeli dadar gulung.

Cici ingin pergi main ke rumah Santi, karena sepulang sekolah meraka sudah berjanji akan main masak-masak di rumah Santi, tapi rencana itu terhalang karena kucingnya yang diberi nama Putih terus mengeong dan mengikutinya semenjak pulang sekolah, bahkan Putih hampir terinjak oleh kakinya. 

Putih kucing kesayangan itu terus mengeong dan menyundel-nyundel kakinya, kadang Putih seperti mengendus sesuatu, namun berbalik lagi ke arah dirinya. Putih sudah diberi makan, sudah diberi minum tapi makanan dan minumannya tidak dimakan.

Cici bingung harus bagaimana, ayah dan ibu sedang berada di ladang, hanya dia sendiri yang ada di rumah. Cici ingin pergi tapi tidak tega meninggalkan Putih, Putih seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi Cici tidak tahu, akhirnya Cici hanya mengelus kepala Putih.

Tok…tok…tok…

Terdengar ketukan pintu yang disusul oleh suara melengking Santi.

"Masuk saja Santi!" Santi masuk sambal melafalkan salawat yang diminta dihafal oleh ibu guru di sekolah. Bacaanya masih tersendat-sendat.

Santi masuk dan melihat Cici sedang kebingungan sambil mengelus kepala Putih yang terus mengeong.

"Santi, coba lihat, kenapa Putih seperti ini, ya?" Mendengar pertanyaan Cici, Santi melihat Putih sambil mendekat dan membesarkan matanya,  Santi mengelus perut Putih.

Santi terlihat berpikir.

"Kucingku juga seperti ini, perutnya besar dan terus mengeong, terus aku melihat ibu memasukkannya ke dalam kotak kardus yang dialas kain."

"Kalau begitu ayo kita carikan juga kain kotak kardus dan kain untuk putih." Mata Cici kembali bersemangat mendengar kata-kata Santi.

"Kamu di sini dulu, ya." Cici mengelus perut Putih yang terasa bergerak-gerak.

Cici dan Santi kemudian mencari lemari pakaian untuk mengambil kain.

"Aduh, lemarinya terkunci, bagaimana ya?" Cici terlihat kecewa karena lemari baju di rumah semuanya terkunci.

"Ayo kita pergi ke tempat jemuran, manatau ada baju yang dijemur di sana."

Akhirnya mereka berdua pergi ke jemuran ternyata ada handuk yang sepertinya sengaja di jemur di luar.

"Ayo, sekarang kita mencari kotak kandus." Mereka berdua mencari kardus di gudang ternyata ada kardus di sana.

Cici dan Santi bertepuk tangan karena berhasil menemukan kain dan kotak kardus.

Cici dan santi berjalan dengan cepat ke arah Putih, mereka memasukkan handuk ke dalam  kardus dan memasukkan Putih ke sana. Mereka saling berpendangan, ternyata Putih berhenti mengeong dan terlihat nyaman di sana. Cici dan Santi bertepuk tangan lagi.

"Yes!!" Cici dan Santi berseru bersama.

"Assalamualaikum!" suara ayah terdengar memanggil dari luar.

Cici bergegas ke teras depan dan bersiap menceritakan tentang Putih kepada Ayah dan Ibu. Ayah san ibu kebingungan. Cici dan Santi menyeret tangan Ayah dan Ibu. Ketika sampai di tempat Putih, Cici sangat kaget, di dalam kardus sudah lahir anak Putih.

“Wah, kardus Ajaib!” teriak Cici bahagia. [*]


*) Naskah peserta Lokakarya Penulisan Cerita Anak

 

 

 

Komentar