Oleh: Febrian Hidayat *}
Dalam rangka menghidupkan kembali diskusi
sastra yang positif, apresiatif, dan motivatif guna kemajuan sastrawan dan
seniman Sumatera Barat, Satu Pena Sumatera Barat gelar kegiatan launching dan
bedah buku Goresan Puisi di Hari Tua karya Saunir Saun.
Acara ini bertempat di Aula Dinas Kebudayaan Provinsi
Sumatra Barat, dimulai pukul 14.00 hingga pukul 18.00 WIB, pada hari Sabtu, 16
Maret 2024.
Dalam sambutannya, Ibu Hajjah Sastri Bakry mengatakan bahwa Saurin Saun adalah penulis prolifik dalam kriteria yang paling banyak menulis. “Setiap hari menulis, ada saja yang ia tulis, terakhir menulis Foto yang Tersenyum," kata Sastri Bakry.
Ketua DPD Satu Pena Sumatera Barat tersebut
juga mengatakan bahwa bapak gubernur akan memberikan penghargaan kepada penulis
yang mereview tentang perjuangan. "Obsesi kita, bagaimana mau menulis
puisi, cerpen, dan karya ilmiah lainnya itu tujuannya untuk melestarikan"
kata beliau.
"Kita bergerak setiap bulan pasti ada
kegiatan. Alhamdulillah dengan kolaborasi bisa kita lakukan. Mottonya seniman
berkarya mandiri, selalu menulis dengan hati dan tampil dengan kolaborasi.
Tidak mungkin sebagai seorang penulis, menulis sendiri, cetak sendiri dan
launching sendiri," jelasnya. “Dunia kepenulisan, dunia sastra, dunia
penyairan alhamdulillah telah difasilitasi dengan kerjasama pemerintah, yang
mencintai literasi, insyaallah pasti akan datang ke acara ini," lanjutnya.
Selanjutnya sambutan juga disampaikan oleh Bunda Literasi Sumatera Barat, Ibu Harneli Bahar yang sangat mendukung agenda yang diadakan. “Ketika kita meninggal, yang akan diingat adalah tulisan kita oleh banyak orang. Bagaimana kita bisa memanfaatkan usia yang masih muda, jadi dalam hal ini motivasi itu yang menyemangati kita untuk berkarya. Teruslah berkarya karena usia kita tidak ada yang tahu" katanya.
Bapak Jefrinal Arifin mewakili Dinas Kebudayaan
Provinsi Sumatera Barat mengatakan bahwa jika seniman terus berkarya, tentu
akan memancing teman-teman yang lain untuk berkarya, sehingga atmosfir ini
tidak akan pernah redup di Sumatera Barat. Pada kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan
keprihatiannya atas bencana banjir dan longsor di Pesisir Selatan. "Dinas Kebudayaan
akan menemui kawan-kawan seniman yang terdampak bencana di Pessel," ujarnya.
“Selamat atas launching dan bedah buku Goresan
Puisi di Hari Tua oleh Saunir Saun, silakan jika ada masukan dan kritik dalam
bedah buku ini.” Lanjutnya menutup sambutan.
Acara diskusi dan bedah buku Goresan Puisi di Hari
Tua bersama pengarangnya Saunir Saun dipandu oleh Armaidi Tanjung selaku
moderator dan Harris Efendi Thahar serta Zusneli Zubir selaku pembedah.
Acara diskusi ini berjalan dengan hangat. Selaku
moderator, Armaidi Tanjung mengatakan bahwa penulis buku Goresan Puisi
di Hari Tua ini sudah berumur 70 tahun. “Saunir Saun dilahirkan pada tahun 1954,
memiliki banyak pengalaman, karya-karyanya yang telah lahir telah dibaca banyak
pengguna Whatsapp, Instagram dan Facebook.”
"Saya mengutip kata-kata Pramudya Ananta Toer
bahwa siapa yang tidak menulis maka sejarahnya akan hilang," ujar pembedah
pertama, Harris Efendi Thahar.
“Di usia yang tidak muda lagi, menulis di media
sosial ternyata mendapat pujian dari netizen. Orang-orang menamakan dirinya
penyair karena yang ia tulis itu syair-syair. padahal sebenarnya tidak.
Puisinya lebih dekat ke syair. Ada yang bersifat naratif. Konon masih ada 3
naskah lagi yang mau diterbitkan.” Lanjut Guru Besar Bahasa dan Sastra Universitas
Negeri Padang tersebut.
“Sebenarnya puisi Indonesia tidak berubah
melainkan pembaharuan yang terjadi. Di antara perenungan diri itu ada moral,
satir, dan tidak bertulis dengan berapi-api. Tapi tidak pula mencemeeh dan
segala macamnya, begitulah kira kira isi puisi buku Saunir Saun, lebih bersifat
naratif dan komunikatif." Jelasnya Harris Efendi Thahar yang memiliki tiga
orang anak dan tujuh cucu.
Pembedah kedua, Zusneli Zubir, seorang peniliti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) memaparkan bahwa ia kenal bapak Saunir Saun melalui karya karyanya. Kisah-kisah lama lalu dituangkan dalam sebuah buku untuk mengingat masa lalu. Tetapi goresan Puisi di Hari Tua itu untuk menceritakan perjalanan pak Saunir Saun. Kata yang tepat untuk bapak Saunir Saun adalah "Tiada hari tanpa menulis".
Saunir Saun, selaku pengarang buku Goresan Puisi
di Hari Tua, sejak muda sudah menulis di koran. “untuk berkarta, harus mau menuliskannya,”
ujarnya
"Tulislah, jangan mengira yang kita tulis
itu buruk. Banyak mendengar maka akan menjadi pembicara, Banyak membaca maka
akan mudah untuk menulis," jelasnya.
Akhir kata ia menyampaikan puisi ini lebih
bersifat dakwah. Mengajak kebaikan dari perjalanan hidup dan bagaimana memahami
masa depan. Tidak ada yang bersifat pornografi dalam buku puisi ini. Semuanya
mengandung hikmah dan kebijaksanaan dalam perjalanan hidup. [*]
*} Penulis adalah anggota Forum Lingkar Pena Wilayah Sumatera Barat
Ingin berita komunitasmu dimuat di pustaka22.com? Baca ketentuannya di sini
Komentar
Posting Komentar